(aku, dia dan dia)
Knowledge and Experience. They just know how to keep me feel alive.....
Wednesday, March 28, 2012
Tuesday, March 13, 2012
Coba-coba : Underwater Hockey!
Kalau di postingan sebelumnya saya bilang saya lagi butuh good distraction, kali ini saya mau cerita kalau saya udah nemu good distraction yang saya butuhkan. Jadi, udah beberapa minggu ini saya mencoba yang namanya 'Underwater Hockey' (Sounds weird, huh?). Karena saya emang suka banget olahraga, mau ga mau ya yang bisa jadi distraction buat saya pasti ga jauh-jauh dari hal-hal berbau sporty.
Jadwal untuk UWH (singkatan dari UnderWater Hockey) adalah setiap Senin dan Kamis jam 7-9 malam di kolam renang Senayan. Lumayanlah seminggu dua kali saya olahraga buat merelease hormon endorphin yang bisa bikin hepi dan ngilangin stress. Hehehe. Awal cerita saya bisa nyoba-nyoba karena diinvite via Facebook oleh salah satu sesepuh di Hammerhead untuk join event "Underwater Hockey for Beginners". Saat itu, saya pikir ga ada salahnya buat nyoba sesuatu yang baru. Dan ya, saya ga salah. Ternyata it is fun, fun and fun! :)
Saya ga bisa cerita banyak soal olahraga ini, karena saya pun masih 'anak piyik'. Yang pasti UWH itu olahraga yang dilakukan di dalam air (ya eyalaaaahh namanya aja underwater). Kemudian basic gear-nya adalah snorkeling gear, which are swimsuit, mask, snorkel and fins. Sama kayak hockey biasa, dalam permainannya juga memerlukan stick, puck dan gloves. Sisanya ada juga water polo cap (buat melindungi telinga), mouth guard (pelindung mulut), dan tentunya gawang. Kurang lebih perlengkapannya seperti gambar di bawah ini :
Jadwal untuk UWH (singkatan dari UnderWater Hockey) adalah setiap Senin dan Kamis jam 7-9 malam di kolam renang Senayan. Lumayanlah seminggu dua kali saya olahraga buat merelease hormon endorphin yang bisa bikin hepi dan ngilangin stress. Hehehe. Awal cerita saya bisa nyoba-nyoba karena diinvite via Facebook oleh salah satu sesepuh di Hammerhead untuk join event "Underwater Hockey for Beginners". Saat itu, saya pikir ga ada salahnya buat nyoba sesuatu yang baru. Dan ya, saya ga salah. Ternyata it is fun, fun and fun! :)
Saya ga bisa cerita banyak soal olahraga ini, karena saya pun masih 'anak piyik'. Yang pasti UWH itu olahraga yang dilakukan di dalam air (ya eyalaaaahh namanya aja underwater). Kemudian basic gear-nya adalah snorkeling gear, which are swimsuit, mask, snorkel and fins. Sama kayak hockey biasa, dalam permainannya juga memerlukan stick, puck dan gloves. Sisanya ada juga water polo cap (buat melindungi telinga), mouth guard (pelindung mulut), dan tentunya gawang. Kurang lebih perlengkapannya seperti gambar di bawah ini :
(taken from here)
Setelah beberapa kali nyoba dan ikut kelas beginner, saya lumayan suka dengan kegiatan baru saya ini. Walaupun kadang-kadang latiannya bikin pegel dan cape, tapi ya itu tetep bisa bikin hati senang. Bisa bikin lebih sehat dan ketemu orang-orang baru pastinya. Buat temen-temen yang mau iseng-iseng coba olahraga ini, bisa langsung dateng aja ke kolam renang senayan hari Senin atau Kamis jam 7 malam untuk free trial 2 kali. *itung-itung bantu promosi*
Ciao!
Tuesday, February 07, 2012
Distraction
Belakangan, entah kenapa, saya seperti sedang hilang arah. Tidak tahu apa yang saya mau. Cuma merasakan awan gelap berisikan kekhawatiran-kekhawatiran yang menyelimuti hari-hari saya. Mungkin ini pengaruh dari ke'magabut'an saya dua bulan terakhir di kantor. Tidak banyak yang bisa saya kerjakan karena memang shipment sedang sepi. Jadi, tidak ada yang bisa mengalihkan pikiran saya dari bayangan-bayangan negatif yang ada di pikiran saya.
Saya lelah. Harusnya awal tahun jadi moment yang baik untuk apapun itu. Jadi semangat baru buat saya. Tapi, sekali lagi entah kenapa, saya malah merasa 'galau'. Bukan mau saya merasakan hal ini. Seorang kenalan di kantor saya pernah bilang 'Apa yang ada di pikiran kita, apa yang kita rasakan, kita ga bisa mengaturnya. It just happens. You just feel something and think about it.' Saya rasa beliau ada benarnya.
Well, I think I need some good distraction, simple saja, hanya untuk melepaskan energi negatif yang saya rasakan beberapa waktu ini. Saya cuma berharap orang-orang di sekitar saya bisa mengerti dan menerima bahwa terkadang saya bisa lelah. Karena saya pun hanya manusia biasa.
Saya lelah. Harusnya awal tahun jadi moment yang baik untuk apapun itu. Jadi semangat baru buat saya. Tapi, sekali lagi entah kenapa, saya malah merasa 'galau'. Bukan mau saya merasakan hal ini. Seorang kenalan di kantor saya pernah bilang 'Apa yang ada di pikiran kita, apa yang kita rasakan, kita ga bisa mengaturnya. It just happens. You just feel something and think about it.' Saya rasa beliau ada benarnya.
Well, I think I need some good distraction, simple saja, hanya untuk melepaskan energi negatif yang saya rasakan beberapa waktu ini. Saya cuma berharap orang-orang di sekitar saya bisa mengerti dan menerima bahwa terkadang saya bisa lelah. Karena saya pun hanya manusia biasa.
(taken from: http://weheartit.com/entry/8430328)
Wednesday, January 18, 2012
Mengurus Paspor = Gampang
Tapiiii, biarpun gampang pastinya biaya yang dikeluarkan kalau pakai jasa calo ga sedikit. Kurang lebih 750 ribu rupiah. Uhm... hal ini bikin saya berpikir ulang untuk minta bantuan sama calo (maklum lagi masa sulit, hehehe). Selain itu, saya juga sempat browsing-browsing tentang pembuatan/perpanjangan paspor di internet, dan ternyata banyak yang bilang kalau sekarang sudah ga susah lagi urus paspor sendiri. Jadilah akhirnya saya memutuskan untuk mengurus perpanjangan paspor sendiri, tanpa bantuan calo. *grin*
Kenyataannya emang proses buat urus paspor sendiri ga ribet kok. Untuk buat janji temu pertama, saya pilih dengan cara online lewat situs http://www.imigrasi.go.id/. Situs imigrasi ini cukup lengkap dan ngebantu banget. Cuma perlu isi data dan scan copy KTP, Kartu Keluarga, Akte Lahir/Ijazah/Surat Nikah sesuai petunjuk di situs. Setelah itu, kita bisa pilih tanggal berapa kita mau datang ke kantor imigrasi untuk proses selanjutnya. Dan di akhir, kalau semua sudah beres, kita akan dapat bukti permohonan pembuatan paspor online yang harus diprint dan dibawa pada saat kita datang ke kantor imigrasi.
Senin kemarin, saya pergi ke kantor imigrasi dengan membawa berkas-berkas asli dan fotocopy yang saya submit lewat situs, bukti permohonan online, surat keterangan kerja dari kantor plus paspor lama saya dan selembar materai. Jam 8 kurang 15 menit saya sudah sampe di kantor imigrasi Jakarta Timur. Dan eng ing eng.... saya langsung jiper waktu liat antrian di depan pintu masuk yang panjang. Jam 8 teng pintu masuk dibuka, antrian boleh panjang, tapi ternyata ga lama. Begitu masuk, saya langsung menuju loket untuk pembelian formulir. Kurang lebih 7 ribu saja biaya untuk beli map berisi formulir dan surat pernyataan yang harus saya isi. Selesai beli, saya langsung isi formulir dan surat pernyataannya, lalu segera meluncur ke lantai atas buat ambil nomor antrian penyerahan dokumen.
Begitu naik ke atas, lagi-lagi saya harus antri. Tapi kali ini ada dua jalur antrian. Antrian pertama untuk orang-orang yang sudah sampe proses foto dan wawancara, sementara antrian kedua untuk mereka yang mau menyerahkan formulir permohonan. Keuntungan dari mengajukan permohonan via online, terasa banget begitu saya ambil nomer antrian. Karena untuk mereka yang registrasi via online disediakan loket khusus, nomer antrian yang beda dan jauh lebih cepat. Jadi, ga sampe setengah jam nunggu, nomer saya sudah dipanggil. Wooohoooo!
Di loket online, saya langsung menyerahkan bukti permohonan online dan map yang saya beli sebelumnya lengkap dengan formulir, surat pernyataan (yang sudah saya tandatangani di atas materai), copy KTP, Kartu Keluarga, Ijazah, Akte Lahir dan dokumen asli surat keterangan kerja. Karena saya mau perpanjang paspor, saya juga harus menyerahkan paspor asli saya yang lama beserta copy halaman depan dan belakang paspor tersebut. Setelah semua dokumen itu dicek kilat oleh mbak-mbak petugas imigrasi, saya langsung ditawarkan untuk jadwal wawancara keesokan harinya. Saya langsung mengiyakan tawaran itu dan menerima slip bukti dari si petugas. First step: done! :)
Besoknya saya kembali lagi ke kantor imigrasi. Mengantri untuk foto dan wawancara memang sedikit lebih lama dibanding untuk menyerahkan dokumen. Tapi prosesnya bisa dibilang cepat juga, karena sekarang semua jauh lebih teratur. Nomer antrian yang jelas dan ga ada orang-orang menyela sembarangan, ruang tunggu yang ber-AC, lengkap dengan tempat duduk yang nyaman, bikin ga jadi masalah untuk menunggu sedikit lebih lama. Proses untuk hari kedua kurang lebih begini : menyerahkan slip bukti yang didapat sebelumnya, ambil nomer antrian untuk membayar biaya pembuatan/perpanjang paspor, membayar 255 ribu saja (untuk biaya paspor dan foto) di loket, dapat bukti pembayaran sekaligus dapat nomer antrian untuk foto, kemudian foto dan wawancara.
Kurang lebih kemarin saya butuh waktu 1,5 jam untuk menyelesaikan semua proses tersebut. Tapi kali ini ga pake proses bete-betean karena kepanasan di ruang tunggu dan ga pake ngeluarin sumpah serapah karena antrian diselak sama orang-orang yang tidak bertanggungjawab seperti lima tahun lalu, hehehe. Selesai foto dan wawancara, petugas imigrasi yang mewawancarai saya langsung memberi tahu bahwa paspor saya sudah bisa diambil Senin depan. Tapi karena hari Senin ada libur nasional, jadi saya harus ambil paspornya hari Selasa. Saya hanya perlu membawa bukti pembayaran saja untuk mengambil paspor baru saya nanti. Second step : done!
Sekarang saya tinggal menunggu saja sampai hari yang ditentukan. Ternyata emang mengurus paspor sendiri sudah jauh lebih gampang dan lebih cepat dibanding sebelumnya, selama dokumen yang dibutuhkan kita lengkapi. Biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih sedikit kalau ngurus sendiri dibanding pake calo. Ibaratnya, kalo pake calo biaya yang dikeluarkan pasti 2 kali lebih besar dibanding ngurus sendiri. Sayang banget kan? Mendingan uangnya saya pakai buat beli diving gear *eeeeaaaaaaaaa* (Maklum yaaaaa saya lagi getol banget pingin punya peralatan selam sendiri. Hehehe.)
*picture taken from: http://id.wikipedia.org/wiki/Paspor_Indonesia
Thursday, January 12, 2012
Just a thought
Kadang saya ga bisa mengerti kenapa banyak orang yang berani mengambil resiko untuk menikah, tapi pada akhirnya memilih untuk bercerai. Sebut saya kuno, tapi buat saya ya menikah harusnya hanya untuk satu kali dilakukan seumur hidup. Dan bukankah disebutkan juga dalam ajaran salah satu agama "apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia"? Entah.
Saya bisa maklum kalau ada orang yang menikah lebih dari satu kali karena pasangannya meninggal dunia alias dipisahkan "maut". Tapi selebihnya? Saya tidak bisa paham. Mungkin karena saya belum pernah merasakan menikah. Merasakan hidup bersama dengan orang lain dan berbagi segala hal dengan orang tersebut, from A to Z. Tapi saya tetap boleh berpendapat kan? Menurut saya, ketika dua orang memutuskan untuk menikah ya berarti mereka sudah siap saling menerima kelebihan dan kekurangan (apa pun) itu. Kecuali kalau mereka memang "terpaksa" menikah. (I think you guys know what I mean)
Bagi saya ketika kita menikah berarti kita terikat. Mengikat diri kita dengan orang lain (dan hanya satu orang saja), dan siap untuk selalu berkompromi dengan orang itu. Siap untuk sama-sama sedikit demi sedikit merelakan ego pribadi demi mencapai kebahagiaan bersama. Siap untuk mencintai satu orang saja, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, seumur hidup dan menjaga cinta yang ada untuk tetap tumbuh, jangan sampai mati. Siap untuk menerima orang itu bahkan ketika dia berada di titik terendah dalam hidupnya. Siap untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk kita menjadi lebih baik. Siap untuk mengubah mindset dari "Gue" jadi "Gue dan Dia". Kurang lebih begitu.
Makanya kadang saya suka heran dan ga bisa mengerti kalau ada dua orang yang sama-sama memutuskan menikah secara baik-baik, membangun rumah tangga, karena saling cinta dan sudah siap lahir batin, tapi ujung-ujungnya cerai juga setelah bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun menikah. Kadang kalau melihat hal-hal seperti ini bikin saya trauma. Takut untuk menikah (walaupun sebenarnya pengen, hehehe..).
Tapi semoga saja, kalau suatu saat saya memutuskan atau diminta seseorang untuk menikah (ga tau deh sama siapa... semoga orangnya baca :-p *ngarep*), itu hanya akan terjadi sekali dan untuk selamanya. Just like my mom did. Amen.
Saya bisa maklum kalau ada orang yang menikah lebih dari satu kali karena pasangannya meninggal dunia alias dipisahkan "maut". Tapi selebihnya? Saya tidak bisa paham. Mungkin karena saya belum pernah merasakan menikah. Merasakan hidup bersama dengan orang lain dan berbagi segala hal dengan orang tersebut, from A to Z. Tapi saya tetap boleh berpendapat kan? Menurut saya, ketika dua orang memutuskan untuk menikah ya berarti mereka sudah siap saling menerima kelebihan dan kekurangan (apa pun) itu. Kecuali kalau mereka memang "terpaksa" menikah. (I think you guys know what I mean)
Bagi saya ketika kita menikah berarti kita terikat. Mengikat diri kita dengan orang lain (dan hanya satu orang saja), dan siap untuk selalu berkompromi dengan orang itu. Siap untuk sama-sama sedikit demi sedikit merelakan ego pribadi demi mencapai kebahagiaan bersama. Siap untuk mencintai satu orang saja, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, seumur hidup dan menjaga cinta yang ada untuk tetap tumbuh, jangan sampai mati. Siap untuk menerima orang itu bahkan ketika dia berada di titik terendah dalam hidupnya. Siap untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk kita menjadi lebih baik. Siap untuk mengubah mindset dari "Gue" jadi "Gue dan Dia". Kurang lebih begitu.
Makanya kadang saya suka heran dan ga bisa mengerti kalau ada dua orang yang sama-sama memutuskan menikah secara baik-baik, membangun rumah tangga, karena saling cinta dan sudah siap lahir batin, tapi ujung-ujungnya cerai juga setelah bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun menikah. Kadang kalau melihat hal-hal seperti ini bikin saya trauma. Takut untuk menikah (walaupun sebenarnya pengen, hehehe..).
Tapi semoga saja, kalau suatu saat saya memutuskan atau diminta seseorang untuk menikah (ga tau deh sama siapa... semoga orangnya baca :-p *ngarep*), itu hanya akan terjadi sekali dan untuk selamanya. Just like my mom did. Amen.
Subscribe to:
Posts (Atom)



