Knowledge and Experience. They just know how to keep me feel alive.....


Sunday, April 05, 2015

Iseng

Sore ini saya sedang duduk-duduk cantik sambil buka laptop di tempat yang bernama Crematology, di daerah Jalan Suryo, Kebayoran. Niat awal ke sini adalah untuk refreshing sambil sedikit-sedikit mengerjakan pe-er Payung Bahasa dan persiapan acara di bulan Juli nanti. Iseng-iseng saya kembali membuka blog ini setelah rasanya sudah sekian lama ga peduli sama keberadaan blog ini.

Agak shock juga, ternyata postingan terakhir saya adalah di bulan Juli tahun 2013. Ya, 2013! Sementara sekarang udah bulan April dan tahun 2015. Itu berarti sudah hampir 2 tahun penuh saya vakum ga nulis apa-apa di sini. Sediiiiihhhh... Jadi takut kehilangan kemampuan menulis pun merangkai kata-kata,, maklumlah alumni Sastra UI. #haazzeeeekkkk

Anyway, bukannya sepanjang 2013 melewati 2014 dan sampai pada 2015 ini ga ada yang momen yang spesial yang mau/bisa saya ceritakan di sini. Tapi justru banyak banget momennya yang dengan sangat menyesal saya ga sharing di sini karena alasan klise: sibuklah, lupalah, ga ada waktulah, ga moodlah, bla bla bla... Harap maklum namanya juga masih abege jadi suka-suka aja maunya apa *jitak diri sendiri*

Intinya mulai sekarang saya mau merefresh dan merestart lagi semuanya. Mau mulai lebih rajin buka blog dan nulis apapun yang bisa ditulis di blog ini. Doakan saya yaaaa.... Semoga aja postingan kali ini ga cuma berakhir sebagai kata-kata kosong belaka, tapi bisa beneran terealisasikan. Amiinn ya Allah! Pokoknya saya harus semangat! Semangat Semangat Semangat!!!


Ciao!


Gie 


Sunday, July 14, 2013

Hello Again!

Lama tak menyapa, rasanya rindu sekali saya ingin bercerita. Hampir setengah tahun saya tidak berkata apa-apa lewat blog ini. Dan sekarang saya kembali, semoga saja tidak hanya sekedar kembali untuk menghilang lagi.

Singkat cerita, sekarang sudah masuk bulan Juli. Lebih tepatnya sudah memasuki hari kelima bulan Ramadhan. Saya jadi teringat, setahun lalu pada awal bulan puasa saya menghabiskan waktu saya di Aceh. Aaahh saya kangen.. Ingin kembali lagi ke sana..

Dari cerita terakhir saya tentang Aceh, saya sudah mengalami beberapa perjalanan dan kejadian lagi yang belum sempat saya ceritakan di sini:

- Oktober 2012, 2nd project of Lalita -> Maya (Bee's little sister) wedding party. Ya akhirnya, Lalita punya proyek lagi dan kali itu acara digelar di Kartipah, Bandung. Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Sah!

-November 2012, saya berlibur ke Lombok-Gili bersama Robin, Bee, Erik, Cathy dan Pinka. Liburan yang nyaris batal karena sehari sebelum keberangkatan tiba-tiba kami dapat notifikasi dari Merpati Airlines kalau penerbangannya dibatalkan. Kampret banget kaaan! Untungnya kami sigap dan bisa segera dapat penerbangan pengganti. Di perjalanan kali ini, lumayan buat saya dan Bee nambah log diving kami 2 log. Selain itu, berhasil meracuni yang lain untuk diving sampai jadi ketagihan juga. Hehehehe.

- Januari 2013, saat-saat up and down buat saya. Memutuskan resign dari pekerjaan saya bahkan sebelum adanya kepastian  diterima kerja di tempat lain. Sedih banget rasanya meninggalkan kantor itu karena sudah 3 tahun saya bekerja di sana dan teman-teman saya di sana sudah seperti keluarga sendiri bagi saya. But hey, life must go on! :")

Bulan ini juga saya melakukan kegiatan favorit saya: weekend trip! Dan kali itu, saya mengunjungi Bromo. Sayangnya, perjalanannya tidak terasa maksimal karena cuaca yang kurang mendukung. Kejadian seru dari perjalanan kali ini adalah kelewatan stasiun kereta. Hahaha jadilah saya, Bee dan Onya sempat nyasar sampai ke stasiun Tanggul, 2 stasiun sebelum kota Jember. -_____-"

- February 2013, waktunya jadi pengangguran. Beberapa hari setelah mengajukan resign dari kantor lama, saya diterima kerja di tempat baru. Awalnya saya diminta masuk pertengahan bulan ini, tapi saya memutuskan untuk mengambil libur sebulan dulu untuk merefresh otak sebelum memulai sesuatu yang baru. Jadilah kegiatan saya di bulan ini hanya mengajar dan lagi-lagi liburan. Hehehe. Bulan ini saya bepergian ke 3 daerah: Jawa Tengah (Semarang) untuk mengajak Ibu saya berlibur, Kalimantan Tengah (Tanjung Puting) untuk berinteraksi dengan Orang Utan (sodara sendiri, hahaha) dan Sulawesi Tengah (Donggala, Palu) untuk diving tentunyaaaa :D. Dan rasanya: Luar biasa!!

- Maret 2013, fresh start in my career. Sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan shipping agency (pelayaran) sebagai Commercial Executive. Saya bersyukur sekali karena Tuhan begitu baik pada saya, terutama di tahun ini. Alhamdulillah paling tidak ada peningkatan sedikit demi sedikit dalam kehidupan pekerjaan saya.

- Juni 2013, kembali menginjakkan kaki di tanah dewata, tempat kesukaan saya. Tapi sayangnya kali ini, saya pergi untuk bekerja dan menghadiri Bali Coal Trans bersama senior di kantor baru saya (yang sekarang orangnya sudah resign), Leony (mari kita sebut saja dia: CiLe/Cici Leony, haha). Menyenangkan bisa kembali lagi ke sana pun hanya untuk bekerja. Saya bertemu banyak orang baru selama acara. Bertambah lagi pengalaman yang membuka mata dan kesempatan saya selebar-lebarnya.

Di bulan ini juga, Erik mulai pindah ke Jakarta for good. Yup, akhirnya Bee dan Erik sudah ga perlu menjalani LDR lagi. I'm so happy for them!

Dan sampailah saya di sini. Sebenarnya masih banyak cerita dan kejadian lain yang saya alami selama beberapa bulan terakhir ini. Yang mungkin suatu saat nanti akan saya ceritakan.



Gie

Friday, February 22, 2013

Your words

"It means that you are special. Don't hate yourself or blame anyone else. Just consider that you have a gift. That you are capable to love more people in your life!"

Thank you.


Gie

Perjalanan

Saya lupa sejak kapan saya jadikan traveling sebagai salah satu dari sekian banyak hobi saya. Yang pasti saya mulai berani traveling setelah bisa menghasilkan uang yang cukup untuk diri sendiri, bisa memberi sedikit pada orang tua, dan masih ada sisa untuk ditabung serta traveling. Walaupun sampai sekarang pilihan, untuk sisa uang yang saya hasilkan, masih sering antara ditabung atau untuk traveling. Belum bisa untuk keduanya. *ngenes*

Dan lebih seringnya saya memilih untuk traveling. Bagi saya traveling sudah menjadi candu tersendiri. Paling tidak tiga sampai empat bulan sekali saya harus keluar dari rutinitas saya dan pergi ke suatu tempat untuk menjernihkan pikiran kembali, walau untuk 3 atau 4 hari saja. Meskipun jumlah tempat yang saya datangi masih tidak ada apa-apanya dibanding para master traveler lainnya, saya sudah cukup senang. Senang mendapat kesempatan untuk melihat tempat-tempat yang indah dan unik, senang bertemu dengan orang-orang baru dan tentunya senang karena banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang bisa saya dapat melalui perjalanan-perjalanan saya itu.

Tadi malam saya pergi ke bioskop dan menonton "Rectoverso". Film ini dibuat berdasarkan buku berisi kumpulan cerpen yang ditulis Dee Lestari, salah satu penulis Indonesia favorit saya, dengan judul yang sama. Saya sudah baca semua karya Dee, kecuali yang satu ini. Setelah menonton filmnya, saya jadi ingin segera ke toko buku, membeli buku ini dan melahapnya sampai habis secepat mungkin. Singkatnya, dari film yang saya tonton tadi malam, ada salah satu cerita dengan judul "Hanya Isyarat" yang menggerakkan saya untuk menulis tulisan ini.

Di salah satu scene cerita "Hanya Isyarat" ada dua tokoh yang bercerita kenapa mereka memutuskan untuk menjadi backpacker dan melakukan traveling. Saya jadi ikut bertanya pada diri sendiri, "Iya ya. Kenapa saya melakukan traveling?" Sampai detik ini jawaban yang bisa saya berikan dari pertanyaan itu adalah karena saya ingin belajar lebih banyak lagi dan saya ingin merasa HIDUP. Saya tidak ingin belajar hanya dengan duduk di dalam kelas, bagi saya sudah cukup 18 tahun saya duduk belajar di dalam kelas mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga lulus kuliah. Tapi saya ingin langsung terjun berbaur dengan alam dan belajar dari pesonanya. Saya merasa hidup setiap kali saya sedang melakukan perjalanan. Dan perasaan itu luar biasa bagi saya. Sesederhana itulah jawaban saya. Tanpa embel-embel apapun.


Gie 

Tuesday, January 29, 2013

First time to Aceh-Weh (Day 3-5)

Hari ketiga dan keempat di Pulau Weh adalah hari yang paling saya tunggu-tunggu. Waktunya Diviiiing XD

(berbagai spot diving di Pulau Weh)

Beberapa spot diving yang saya jelajahi selama di sana antara lain: Batee Tokong, East dan West Seulako, The Canyon, Rubiah Sea Garden serta Underwater Volcano. Banyak pengalaman baru yang saya alami selama diving di beberapa spot tersebut. Yang paling berkesan adalah ketika saya, Bee, Dea dan Bang Isfan (Dive Master kami dari Rubiah Tirta Divers) menyelam di The Canyon.

Ombak yang cukup besar menyapa kami waktu kami sampai di lokasi, membuat kami kesulitan mempersiapkan diri sebelum melakukan back roll entry dari kapal. Saking besarnya ombak, mata saya sampai perih dan merah karena terkena cipratan air laut yang menghantam kapal kami. Rasa-rasanya saya udah kecapean duluan bahkan sebelum diving dimulai, karena pada saat ombak besar seperti itu butuh extra effort untuk mempersiapkan diri. Ga cuma itu saja, ketika kami sudah berhasil melakukan entry, gantian tubuh kami yang terombang-ambing kebawa arus ke sana ke mari. Bang Isfan saat itu juga langsung meminta kami untuk segera turun masuk ke dalam laut tanpa buang waktu lagi.

Jeng..jeng.. jeng... begitu masuk ke dalam laut, satu hal yang ada di pikiran saya: Skeeerrrriiii!!!! Bukan karena ada hiu, tapi justru karena ga ada apa-apa. Kosong! Benar-benar kosong di 10-15 meter pertama. Bang Isfan terus meminta kami turun, hingga akhirnya kami mencapai kedalaman sekitar 28-35 meter. Gosh, udah di atas dihajar ombak, di bawah kami disambut sama arus yang rruuaarr biasaaa. Buat saya The Canyon unik banget. Suasananya remang-remang bikin merinding, topografinya unik seperti labirin bebatuan, curam dan mencekam, arusnya oke banget buat nambah pengalaman, kemudian hamparan ratusan (mungkin ribuan) sea fan yang segede-gede gaban jadi pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya, belum lagi banyaknya Moray Eel yang bersarang di bebatuan. Breathtaking! 

(3 Morray Eel dalam 1 sarang)
 
Yang pasti The Canyon adalah spot yang wajib dikunjungi kalau mau menyelam di Pulau Weh. Menantang dan memacu adrenalin. Ga cuma The Canyon, Batee Tokong juga jadi spot yang menarik dan ga akan saya lupakan. Karena di sini pertama kalinya saya menyelam dan ada hiu jenis blacktip di dekat saya. Sayangnya (atau mungkin untungnya buat saya), saat hiu itu melintas beberapa meter di hadapan saya, masker saya sedang fogging. Wakwaaaoo...  Padahal waktu itu si Bang Isfan udah heboh narik-narik saya suruh foto sambil kasih tanda kalo ada hiu, tapi saya malah sibuk masker clearing karena fogging. Keburu cabut deh hiunya. Alhamdulillaaaaaah... Heheheheee.

Spot penutup pengalaman saya selama di Pulau Weh adalah Underwater Volcano. Bang Isfan bilang kalau menyelam di sini tak perlulah pakai wetsuit karena airnya hangat dan kedalaman hanya sekitar 10-15 meter saja. Maka jadilah saya cukup berbikini ria saat menyelam di sana. Huhuuuyy! Dan ternyata airnya memang hangat. Di lokasi ini kami hanya bermain-main saja selama kurang lebih 15 menit. Video yang pernah saya posting sebelumnya di blog dengan judul Teaser... (#hazeeekk) diambil di lokasi ini.

Puas dengan diving-divingan, saya, Bee dan Dea juga sempat mengunjungi Tugu Kilometer Nol, Pantai Anoi Itam (tempat berdirinya benteng peninggalan Jepang) dan Pantai Sumur Tiga. Kami pergi ke lokasi-lokasi tersebut dengan menyewa ojek. Udara yang bersih (walaupun mataharinya cukup panas menyengat) dan masih banyaknya pepohonan, hutan sepanjang perjalanan membuat kami tidak menyesali keputusan kami untuk naik ojek dibanding naik mobil. Biar gosong tapi hati plong! ^_^

Saya dan Bee memutuskan untuk menginap dua malam di Freddies Santai Sumurtiga, sebelum akhirnya kami harus kembali ke Jakarta di hari kelima kami menikmati berkeliling Banda Aceh dan Pulau Weh.


Gie





Tuesday, January 08, 2013

New year, fresh start..

Happy New Year, People!!

As usual, saya mau ngucapin selamat tahun baru untuk kita semua! =)

Semoga di tahun baru ini masing-masing dari kita bisa menemukan kebahagiaan yang dicari selama ini. Bisa melengkapi kepingan yang masih kurang dari puzzle kehidupan. Bisa mewujudkan cita-cita yang sempat tertunda. Bisa, bisa, bisa!

Untuk diri saya sendiri, saya tidak mau bermuluk-muluk mengucap harapan. Saya bersyukur atas segala pengalaman manis dan pahit di tahun 2012 lalu. Tahun ini saya cukup ingin bisa "move on" saja dan punya lebih banyak kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang saya sayangi, pun dengan orang-orang yang mungkin tidak seberuntung saya.

Amin.

-Gie-

Tuesday, December 18, 2012

Hutang

Hooooaaaaaa...

Saya sedih punya banyak hutang. Bukan hutang uang, tapi hutang tulisan. Sedih karena susah banget meluangkan waktu untuk nulis. Mungkin saya sekarang sudah terlalu diperbudak oleh pekerjaan. Huuuuu... :"(

Banyak banget yang mau diceritain. Belum mulai nulis dan menyelesaikan cerita tentang Aceh-Weh, hari ketiga sampai kelima. Belum lagi mau cerita tentang liburan ke Lombok-Gili beberapa waktu lalu. Ada juga cerita tentang Lalita project yang kedua, setelah sekian lama. Belum pula mau curhat tentang kegalauan-kegalauan (masih jamaaaannnn???).

Pokoknya saya sedih. Kembalikan masa mudakuuuu!!! *loh*


-Gie yang sedang sedih-

Thursday, November 15, 2012

First time to Aceh-Weh (Day 2)

Hari kedua kami di Banda Aceh adalah hari pertama bulan Ramadhan di taun ini. Naaahh.. keputusan yang kami bikin untuk pergi saat bulan Ramadhan ke Aceh, bisa dibilang agak-agak bodoh yet challenging. Karena cari makan pas bulan puasa di Aceh itu susaaaaaaahhnya naudzu bilah minzalik. Saya yang emang lagi ga puasa sampe harus ikutan puasa hari itu. Zzzzzzzzz......

Di bulan Ramadhan hampir semua toko tutup sepanjang siang. Kebanyakan toko cuma buka sesaat sebelum buka puasa, terus tutup lagi pas waktunya tarawih dan kembali buka setelah tarawih untuk 1 atau 2 jam saja. Jadi, kami terpaksa skip makan siang hari itu. Untungnya kami masih dapat sarapan roti dari hotel, walopun sarapannya udah disediain dan dikasiin ke kamar dari malam sebelumnya. -_-"

Kami memulai hari kami sedikit lebih siang hari itu. Sekitar jam 11-an kami check-out dari Hotel Lading, tempat kami menginap di Banda Aceh. Dengan bawaan yang lumayan banyak, kami langsung dibawa menuju Pantai Lhok Nga sama Bang Ade naik becaknya. Perjalanan yang lumayan jauh bikin saya rada-rada masuk angin juga waktu itu. Tapi ga ada penyesalan sama sekali, karena saya jatuh cinta sama langit Aceh di sepanjang perjalanan menuju Lhok Nga. Cakeeeeebbb bangeeeett langitnyaaaa!!

 Di perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di depan Sasana Budaya Cut Nyak Dhien (Rumoh Aceh), rumah yang dulunya ditinggali pahlawan wanita dari Aceh, Cut Nyak Dhien. Sayangnya, kami ga bisa masuk dan liat-liat lebih banyak karena ditutup. Sedih deh... tapi perjalanan pun dilanjutkan.

(Penampakan rumah Cut Nyak Dhien dari luar)
Akhirnya, setelah hampir menghabiskan 2 jam perjalanan naik becak, kami tiba juga di Lhok Nga. Bah, cantik kali pantainya, kawan! Pasirnya putih bersih, air laut yang jernih berhadapan dengan pohon pinus yang berjajar rapih, dan ada sederetan pondokan teduh di sepanjang pantai. Saya dan Bee ga pake lama-lama langsung lari ke laut.





Puas main-main di pantai, foto-foto dan menunggu Si Bang Ade sholat di tengah pantai, kami pun siap-siap untuk menuju ke pelabuhan Ulee Lheue (baca: Ulele). Sebelum ke Ulee Lheue, kami kembali ke pusat kota dulu untuk beli beberapa cemilan, oleh-oleh dan kopi Sanger sachet. Hehehe sepertinya sekali coba kami langsung ketagihan kopi Sanger.

Sesampainya di Ulee Lheue kami langsung mengucapkan salam perpisahan sama Bang Ade, si abang becak yang baik hati, dan bergegas beli tiket PP kapal cepat ke Pulau Weh (Sabang). Sekedar informasi, harga tiket kapal cepat untuk sekali jalan 75 ribu, tapi kalau beli langsung PP totalnya cuma 110 ribu. Di Ulee Lheue kami janjian ketemuan sama Dea. Ternyata waktu kami memutuskan pergi ke Aceh dan Weh, Dea juga berencana pergi ke sana untuk liburan selama 2 minggu.

Yeaayy.. finally the time has come for us to cross the sea to Pulau Weh, Sabang!

Dari Ulee Lheue ke pelabuhan Balohan (salah satu pelabuhan di Sabang) dengan kapal cepat kira-kira waktu tempuhnya 45 menit. Rasanya baru juga merem sebentar di kapal udah nyampe. Kapal cepatnya cukup nyaman, dingin dan spacious. Mungkin karena lagi ga ramai dan bulan puasa juga, jadi ga terlalu rame. Sampe di Balohan, kami dijemput supir yang udah kami booking dan langsung diantar menuju Iboih (baca: Iboh). Dari dermaga Iboih, kami naik perahu kecil menuju penginapan kami yang letaknya di tepi pantai: Iboih Inn.

Sisa hari kami hari itu kami habiskan dengan snorkeling di depan penginapan kami, bersantai sambil nyemil Lemang dan menikmati pemandangan sunset di Pantai Iboih. It feels like heaven...

(senja di Iboih...)


-Gie-





Monday, November 05, 2012

First time to Aceh-Weh (Day 1)

Okeh, kali ini saya kembali bingung tentang bagaimana menceritakan pengalaman sendiri. Bingung karena terlalu banyak yang mau diceritain, bingung karena kejadian yang dialami selama trip terakhir semuanya menarik, pokoke bingung-bingung ga penting gitu deh. Hakhakhak...

Jadi, seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, sekitar 3 bulan lalu, tepat pada saat memasuki bulan Ramadhan, saya pergi ngunjungin kampung halaman Ibu saya. Kurang lebih selama 5 hari 4 malam saya bersama Bee pergi ke Ujung Barat Indonesia, Banda Aceh dan Pulau Weh (Sabang). By the way, Ibu saya sebenarnya keturunan Jawa, tapi karena Kakek saya jaman dulu bertugas di Aceh, jadilah Ibu saya lahir dan tumbuh selama beberapa tahun awal hidupnya di kota Banda Aceh. Sementara itu, Kakek saya adalah Kepala Jawatan Listrik dan Gas (sebelum berubah nama jadi PLN) yang pertama di Aceh dan Sumatra Utara *sombooong* *ya terooosss??*.

Back to the track, saya dan Bee menghabiskan hari pertama dan kedua di Banda Aceh dengan berkeliling kota naik Becak. Becak di Aceh beda sama apa yang biasa kita sebut becak di Jakarta, Bekasi dan sekitarnya. Di sana becaknya bukan becak yang harus digenjot sama si Abang, tapi becak motor. Jadi lebih cepet dan nyaman juga. Ongkos nyewa becak yang kami keluarkan untuk 2 hari itu sekitar 150 ribu rupiah, 100 ribu untuk hari pertama (dari jam 1 siang sampe jam 8 malam) dan 50 ribu untuk hari kedua (dari jam 11 siang sampe jam 3.30 sore). Lumayan kan?

Hari pertama di sana kami cukup memaksimalkan keadaan, karena waktu itu hari terakhir sebelum masuk bulan Ramadhan. Begitu kami tiba di bandara Sultan Iskandar Muda kami langsung naik bus Damri menuju ke pusat kota. Jalanan di Banda Aceh sudah bisa ditebak tidak seramai di Jakarta. Apalagi waktu itu kami pergi hari Jumat, yang ternyata banyak orang tidak berkegiatan apa-apa alias libur di hari itu. (Enak banget ya cyiiiinn tiap Jumat libur :p) Sampai di pusat kota kami bertemu dengan Masjid Raya Baiturrahman. Subhanallah cantik dan megah banget bangunannya. Sayang kami ga bisa masuk karena setiap wanita yang mau masuk ke sana WAJIB pakai rok panjang, ga boleh pakai baju ketat dan harus berkerudung.

Karena ga berjodoh untuk liat dalemnya Masjid Raya Baiturrahman, jadilah kami langsung menuju hotel yang ga jauh dari situ untuk check-in dan istirahat sejenak. Setelahnya petualangan kami dengan si abang Becak sewaan pun dimulai. Tempat pertama yang kami singgahi adalah.......tempat makan! Hahaha. Karena uda kelaperan jadi kami memutuskan makan dulu. Si abang bawa kami ke Dapukupi. Katanya sih tempat ini ngehits banget di Banda. Di sana kami coba Mie Acehnya dan minum Kopi Sanger khas Aceh. Aceh emang terkenal dengan banyaknya warung kupi-warung kupi di pinggir jalan. Ibaratnya kalau ga ngupi ga gaul, man! Dan menurut penilaian kami makanan dan kopi Sanger di Dapukupi enaaaaakk banget dan ga menguras kantong alias murah. Mie Aceh kepiting (1 kepiting full) 25 ribu saja sodara-sodaraaaa... Must try item in Aceh!

Selesai makan, saya langsung request sama si Abang buat bawa kami ke komplek perumahan PLN. Saya penasaran sama rumah masa kecil ibu saya. Dan inilah saya pasang pose di samping bekas rumah tinggal Ibu saya dulu:




Di seberang bekas rumah Ibu saya  ada Taman Putroe Phang. Ga mau rugi dong yaaa mumpung masih ada waktu jadilah kami mampir masuk ke dalam dan liat-liat. Usut punya usut ternyata taman itu terkenal sebagai 'tempat pacaran' anak muda di sana. Naah.. Makanya sering banget ada polisi syariah yang menyatroni taman itu. Pas banget waktu saya keluar dari taman, ada segerombolan polisi syariah dateng. Si Abang langsung buru-buru nyuruh kami pake kerudungan kami dan ngajak cabut dari situ.

Oia, kalau ada yang berminat berlibur ke Aceh dan sekitarnya saya sangat menyarankan untuk berpakaian sopan dan (khusus wanita) mendingan bawa syal/kerudungan gitu deh buat nutupin pala. Yah.. itung-itung ikut menghargai adat dan budaya di sana, daripada jadi tontonan orang-orang karena mengumbar aurat. Ya kaan? :)

Puas berkunjung ke rumah masa kecil Ibu dan Putroe Phang, kami melanjutkan perjalanan buat ngeliat bekas kapal yang kebawa Tsunami sampai ke tengah kota. Begitu ngelihat "PLTD Apung 1"di tengah perumahan penduduk, saya baru sadar betapa dahsyatnya Tsunami yang menghantam Aceh beberapa tahun lalu. Gilaaaaa kapal segede gaban dan seberat dosa gitu bisa kebawa dari laut sampe ke tengah-tengah pemukiman penduduk!!


Hari itu kami juga ngunjungin satu lokasi lainnya, "Kapal di Atas Rumah Lampulo". Di situ ada kapal nelayan yang nyangsang di atas rumah orang. Bikin ngelus dada ngeliatnya, karena jadi kebayang banget suasana waktu kejadian Tsunami dulu. :(



Di sisa hari pertama, kami juga pergi ke tugu Aceh Thanks The World dan mejeng depan Museum Tsunami. Cuma mejeng doang karena keburu tutup museumnya gara-gara udah kesorean. -_-"

Anyhow, we had so much fun at day 1 and so excited for day 2! Cerita hari keduanya akan saya posting sesegera mungkin. Mohon ditunggu dan sabar ya para pembaca yang budiman. (Macam banyak aje pembacanya). Hehehe.
('▿^)♉


-Gie-


Saturday, August 25, 2012

Blissful Day!

I just celebrated my birthday 3 days ago. It was special. First of all I want to say thanks a lot (once again) to these two people: Robin and Bee, who successfully made my birthday become a very special one. I love you guys, more and more each day. (˘⌣˘)ε˘`)

So... these two people and some of my close friends, with 1/2 dozen of cupcakes and candles on it, came to my house and surprised me at midnight. I was shocked (in a good way) and so not ready for that. But hell yeah, I was really happy! Thanks buddies..
Besides that surprise, I've got two phone calls from The Netherlands. It was from Erik (Bee's boyfie) and Ma Joke (Robin's mom). I feel so loved and blessed at the moment. :")


On my birthday, Robin and Bee rented a car plus the driver for me. They took me to my campus. God, I miss that place so much! Lots of good memories I've had there. So, we went there and took some pics. After that, we went to Senayan City (Sency) for lunch.

Bee said that she needs to meet her colleague in Sency, too. Then when we finished our lunch, we went upstairs to catch up with her colleague. But then.... I got another surprise! Suddenly there were my college friends came out of nowhere holding a plate of pancakes with candles on it. Aaahh Ik ben HARTSTIKKE BLIJ!! Ik dank jullie wel voor de verrassing, meisjes!


My birthday story isn't over yet. Around 4pm Robin and Bee took me to Ancol, we spent about one and half hour there, doing nothing but walking around and chit-chatting. Geez, I almost forgot to mention that I also got two phone calls from Bandung and Bali. Thanks for calling me, Kak Ocha and Kak Dea. Glad to hear your voices kakaaa.. :-)

Anyway, from Ancol I was taken to one of my favorite restaurant in Southern Jakarta for birthday dinner. I ordered my favorite food and drink as usual. Again... another sweet surprise happened: Apparently the woman that I love the most in my life came and joined us for dinner, My Mom! Not only that, Nick (Robin's friend) also joined us that night. Even I've got another phone call from far far away land, but this time from Oma Hinke (Robin's grandma). And indeed there was another cake and candles to blow, to close my birthday.


I am extremely grateful for that day. I wish the day would never end, but sadly it has to end. Though I decided to end my day with one big smile on my face and being grateful for whatever God has given to me. Beautiful day with beautiful people around. And I hope there will be more of that for the next years to come.... Amen.


-Gie-

Thursday, July 19, 2012

Coin A Chance

I've just read Meida's blog today. She is one of my friends in college that really love to write. You can check her blog here.

Two days ago, she wrote about one program called "Coin A Chance". This is a social movement that started in Jakarta on December 2008. We can easily join the program by collecting coins and drop them in the drop zones. Later on, those coins will be used for sending the unfortunate kids back to school. Yup, we can give them a chance to learn at school just by giving coins. Isn't it cool?

If any of you are interested in this program, but do not know how to join, you can check the program by clicking here. Or you can just simply contact me to give the coins you have. It would be a pleasure for me to accept those coins and drop them directly at the drop zones.

(pic)
So, let's help kids get back to school!


Wednesday, July 18, 2012

26 (and I wish...)

In a couple weeks I will turn 26. Aha! Another year has passed. I believe age is just a matter of number. But sometimes (let's just say often) I have this one question in my mind, "What have I done all my life?"  :-s

That one question is easy to ask, but hard to answer. I wish I could just give myself (and others) the answer easily like: "I have done this, and that, and oh yes that one also. Not to forget to mention I've done those too."

Yeah, I wish!

I wish for that and I wish my life will be more awesome each years.

Dear God, thanks for the great life, so far and sorry for keep saying I wish.....


 (pic)

My beloved desk 3

Here it is.....



I have a new member on my chair: The Nerd Emoticon Pillow! Well, not only me that have the emoticon pillow as a new member, most of my colleagues have it too. But, why I choose the nerd one? Simple answer, because it reminds me of my nerdy boyfriend. Haha! Peace, dear.. *kiss2*

So, what do you think about my new desk? For me it is a much better desk, compare to my first and second one.

Tuesday, July 17, 2012

I just can't wait!

For the past few days, my colleagues and I were extremely busy since we have to move to our new premises. We have to pack lots of stuffs, documents, bantex, folders, etc. Boxes were everywhere. Then we have to unpack and put them in order at the new place. It was tiring yet exciting. Our new office is way bigger than the old one. We get new (bigger) desk, chair and computer screen. We loooooooveeeeee it! :-p

After those hecticness I had, I just can't wait to go for some relaxing days at the beach. Yup, this weekend I am going to have another trip for 5 days. This time I choose to go to my mom's hometown. I am so excited to see the place where my mom was born. And of course not only to see my mom's hometown, I am also really really excited to do deep dive there. Yeay!!

This trip is just what I need for now. So, I can't wait any longer. *grin*




Friday, June 29, 2012

Ke atas sedikit, ke bawah sedikit

Mood untuk nulis itu emang bisa datang kapan aja. Kalau lagi ngeliat atau ngalamin kejadian apa, biasanya mood saya untuk nulis langsung nongol dan ga bisa deh tuh ditunda lama-lama. Kebetulan mood itu menghampiri saya sekarang karena siang tadi saya dan teman saya memutuskan untuk makan siang di gedung seberang kantor kami, dan mau ga mau kami harus lewat jembatan penyeberangan. 

Saat-saat lewat jembatan penyeberangan selalu jadi momen bagi saya untuk "melihat" ke atas sedikit dan ke bawah sedikit. Maksudnya begini, ketika berjalan melewati jembatan penyeberangan pandangan kita akan menjadi  lebih luas untuk melihat apa yang ada ke sekeliling kita, entah itu mobil-mobil yang lewat di bawah jembatan, pedagang-pedagang yang ada di ujung kanan-kiri dan sepanjang jembatan, orang-orang yang naik turun bis, gedung-gedung megah di sekitar atau bahkan pengemis-pengemis yang ada di sepanjang jembatan dan masih banyak lagi. Nah, siang tadi pandangan saya tertuju pada 3 hal: mobil-mobil mewah di bawah jembatan (walaupun agak ngeri sebenernya ngeliat ke jalanan), salah satu gedung di pinggir jalan, dan pengemis yang ada di ujung jembatan.

Waktu saya melihat mobil-mobil mewah yang lewat di jembatan saya berpikir dan berkata dalam hati, "Kapan ya gue bisa beli mobil idaman gue pake uang sendiri? Mau ke mana-mana enak, gampang!" Kemudian saya beralih melihat ke sebuah gedung dan berkhayal, "Asik banget kali ya kalo jadi bos. Suatu hari nanti gue pengen banget nyewa salah satu ruangan di gedung itu untuk kantor gue dan team." Dan terakhir, mata saya terpaku pada pengemis, seorang anak laki-laki yang anggota tubuhnya ga sempurna dan berumur kira-kira 15-an, di ujung jembatan dan membuat saya berbisik dalam hati "Ya Tuhan, gue beruntung banget lahir dalam keluarga gue dengan kondisi tubuh yang sempurna. Gue bisa nyelesein sekolah sampe kuliah dan bisa kerja seperti sekarang. Karena kalo ga, mungkin aja gue luntang-lantung ga jelas kayak anak itu."

Ya, menengok ke atas dan ke bawah. Ke atas dalam artian melihat keberhasilan orang, merasa ingin mengalami apa yang orang lain alami, ingin memiliki apa yang orang lain miliki, atau ingin merasakan berada di posisi orang-orang yang lebih beruntung dari saya. Saya menjadikan itu semua cambuk buat saya mendapatkan apa yang saya inginkan, mencapai target, dan menjadi manusia yang lebih baik. Ke bawah berarti menyadari bahwa masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung saya, bahwa ada orang-orang yang ingin bertukar posisi dengan saya, dan saya menjadikan itu sebagai momen untuk mensyukuri semua yang sudah saya alami sampai detik ini.

Saya yakin kalau bukan cuma saya yang pernah merasa atau mengalami momen-momen di atas. Tapi saya tidak ingin kalau momen seperti itu justru membuat saya lupa diri. Terlalu melihat ke atas mungkin bisa bikin saya jadi orang yang dipenuhi rasa iri, dengki, dendam dan ga mungkin lama-lama bisa bikin gila karena ga bisa mencapai apa yang ingin dicapai. Well, ga semua orang rejekinya sama kan. Tapi tetep saya harus berusaha semaksimal mungkin dong. Saya juga ga mau terlalu melihat ke bawah karena itu akan menjadikan saya orang yang sombong, angkuh dan merasa memiliki segalanya. Saya cukup sadar untuk ingat kalau di atas langit masih ada langit. :-)

Buat saya cukup untuk sesekali melihat ke atas sedikit, ke bawah sedikit, lalu bersyukur banyak. Dan ternyata menerapkan itu bisa menjaga kewarasan dan menyeimbangkan hidup saya, dan Insya Allah membuat saya lebih bahagia. Amiiiinn.   

 (pic)

Friday, June 15, 2012

So long, Dakocan...

Terinspirasi sama tulisan Acit, saya jadi pengen cerita singkat-sesingkat-sesingkatnya soal nasib sial yang belum lama ini menimpa saya.Ga jauh beda dengan si Acit, saya juga baru kehilangan teman terdekat saya, si telepon pintar Blackberry (bebe). Karena saya sayang banget sama si bebe, saya kasih nama spesial untuk bebe saya: Dakocan. Huaaaaa... waktu pertama kali si Dakocan lenyap tanpa jejak, dunia saya rasanya hancur lebur jadi debu :'(( (Sok dramatis...).

Karena ini terlalu menyedihkan untuk diceritakan kembali, jadi saya akan langsung ke inti dan kesimpulan cerita aja:

Intinya: Dakocan hilang waktu saya ga sengaja ninggalin dia di sebuah Eco Bar di daerah Kemang. Waktu itu teman saya lagi ada yang berulang tahun di sana. Padahal saat itu saya dalam keadaan sadar-sesadar-sadarnyanya (Sumpah demi apapun di muka bumi ini gw ga mabok!! <= untuk semua temen yang masih ga percaya kalau saya sadar 100% waktu kejadian), cuma saya emang careless aja karena kondisi yang kurang fit malam itu dan bikin Dakocan ketinggalan di atas bangku lalu digondol makhluk lain yang ada di sana.

Kesimpulannya: Saya sedih banget, tapi tetep berusaha untuk tegar waktu awal-awal kejadian. Tapi beberapa jam setelahnya, saya mewek juga karena mengingat kebersamaan saya dan Dakocan yang masih terlalu singkat untuk berakhir begitu saja. Saya yakin Dakocan juga pasti sedih berpisah sama saya, tapi semoga aja pemiliknya yang baru bisa menjaganya dengan lebih baik dan menggunakan Dakocan dengan lebih bijak. Baik-baik ya kamu, Can... I miss you..

Sampe saat ini, udah hampir dua bulan, saya masih belum rela untuk nyari pengganti Dakocan. Tapi saya udah ikhlas kok dengan kehilangan yang saya alami. Cuma mungkin agak trauma aja, takut kehilangan lagi. Yang pasti kalau nanti saya udah nemu pengganti yang pas, saya akan lebih berhati-hati menjaganya (kalo perlu gw rantein deh tuh henpon ke mana-mana ntar). Semoga dalam waktu dekat hati saya sudah siap mencari dan menerima pengganti tersebut.

So long, Dakocan... :-*

-Gie-

Just a thought (2)

"Kalau memang Tuhan sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan, kenapa masih saja ada yang menentang?"

-Gie-


Wednesday, June 13, 2012

Para.. para..

I am acrophobic. And I don't like being acrophobic, but that is what I am.

Acrophobic berarti orang yang takut ketinggian, dan saya salah satunya. Saya ga bisa ingat sejak kapan saya takut ketinggian. Yang saya ingat, saya selalu deg-degan dan sedikit gemetar tiap kali harus menyeberang dengan jembatan penyeberangan (terutama jembatan penyeberangan di gerbatama UI, yang juga menyeberangi rel kereta. Tinggi banget!!). Saya selalu ingin nutup mata tiap kali naik lift yang kacanya transparan. Saya ga berani liat ke bawah tiap kali naik eskalator atau jalan-jalan di mall, karena kalau saya lakukan perut saya rasanya langsung mual. Pernah satu kali saya pergi ke Anyer dan saya naik ke puncak sebuah mercusuar bersama beberapa teman, saya hanya berani duduk merapat ke tembok sambil berpegang erat-erat ke pagar penyangga dengan wajah pucat sementara teman-teman saya asyik bergaya dan berfoto. Saya juga pernah dipaksa naik wahana Kora-Kora di Dufan oleh beberapa teman, dan saya hanya bisa menutup mata, merasakan jantung saya hampir copot sampai akhirnya tangisan saya pecah di atas wahana itu.Yah, itulah saya.

Sering kali saya dapat ucapan dari teman-teman saya seperti, "Ga asik lo! Gitu aja takut.Cupu!" atau "Gaya tengil macam jagoan tapi ga berani nyoba yang tinggi-tinggi". Puas deh sepanjang hidup saya denger omongan kayak gitu. Saya cuma bisa cengar-cengir kecut tiap kali denger semua ucapan teman-teman saya tadi. Ga masalah mereka mau bilang apa, selain sama hiu, saya emang takut juga sama yang namanya ketinggian, jadi mau gimana lagi.

Tapi biarpun takut tinggi, saya ga takut naik pesawat. Karena mungkin saya merasa aman berada di dalamnya. Saya jadi ingat pengalaman pertama saya naik pesawat, antara excited dan takut setengah mati. Saya tidak akan pernah lupa penerbangan pertama saya ke Bali dengan 3 orang teman. Waktu itu saya dapat tempat duduk terpisah dari 3 teman saya tersebut, tapi karena teman saya tahu persis kalau itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat dan saya sebenarnya penakut, jadilah saya bertukar posisi dengan salah seorang teman. God bless her :-p. Saat take off dan landing adalah saat-saat yang paling saya ga suka. Lagi-lagi saya menutup mata plus menggenggam erat-erat bangku pesawat (dan tangan teman saya) ketika itu. Walaupun diketawain sama teman saya, saya udah ga mau ambil pusing dan tetep melanjutkan ritual tersebut. Sampai sekarang pun, tiap kali take off dan landing dengan pesawat, saya lebih suka menutup mata saya, mengatur napas sedemikian rupa dan berpegang pada sesuatu sambil komat-kamit dalam hati: All is well... All is well... 

Saya ga tau apakah acrophobia saya ini termasuk dalam ukuran parah, lumayan atau biasa-biasa saja. Tapi saya sudah membulatkan tekad untuk pelan-pelan mengatasinya. Beberapa waktu lalu tercetuslah sebuah ide dari teman saya untuk mencoba tandem paragliding (paralayang) di Puncak. Di satu sisi saya tertarik banget untuk nyoba, saya selalu senang dan penasaran dengan hal-hal baru. Tapi di sisi lain, saya ga berani membayangkan betapa tingginya nanti saya akan melayang, di alam terbuka, tanpa pelindung apa-apa. Bayangan seperti parasut yang ga akan terbuka atau tiba-tiba saya jatuh dari ketinggian melintas di kepala saya. I'm terrified, but I have to face it. I want to experience it so bad. Maka, saya pun mengiyakan ajakan itu.


Dan jadilah saya, tepat tanggal 19 Mei 2012 lalu, terbang pertama kali dengan paralayang dan berhasil melawan ketakutan-ketakutan saya. Saya mungkin lebay, tapi saya bangga bukan main. Hehehehehe. Bukan hal gampang bagi saya untuk yakin terus berlari sampai parasut membawa saya terbang melayang di ketinggian berpuluh-puluh meter dari atas tanah tempat saya berpijak sebelumnya. Saya harus melihat 2 teman saya lebih dulu melaluinya dan mendengar komentar mereka sebelum saya memutuskan untuk ikut mencoba. Tangan saya harus terus mengeluarkan keringat dingin tiap kali saya berdoa dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja dan saya tidak akan jatuh. Kaki saya harus gemetar terus-terusan sebelum angin akhirnya datang dan saya diminta berlari sekuat tenaga sampai saya melayang. Bahkan pada saat berlari saya harus menggigit bibir saya karena ketegangan yang saya rasakan.

Pada akhirnya, ketika saya sudah terbang tinggi, saya merasa perut saya bergejolak. Bukan karena mual, tapi lebih karena senang. Senang merasakan angin sejuk yang menerpa wajah saya. Senang karena saya bisa merasa aman melihat pemandangan di bawah saya. Senang karena ternyata bayangan-bayangan seram dalam kepala saya sebelumnya ga terjadi. Rasanya campur aduk, walaupun masih tersisip sedikit rasa takut jauh di dalam pikiran dan hati saya. The feeling was amazing. Such a great sensation I can say! Sensasi yang serupa tapi tak sama yang saya rasakan tiap kali saya menyelam. Aaaahh saya suka sensasi itu. Sensasi itu membantu saya bernapas lega ketika tiba waktunya untuk saya perlahan terbang merendah dan mendarat kembali di tanah. I nailed it!

Pengalaman saya kali ini pastinya ga akan pernah saya lupain. Benar-benar pengalaman pertama saya 'terbang'. Tanpa pesawat. Dari pengalaman ini saya belajar kalau ketakutan itu bisa diatasi pelan-pelan. Walaupun ga sepenuhnya hilang, tapi bisa dikurangi dan saya jadi lebih percaya dengan diri sendiri. Untuk Bee, -i-, Dea dan Chirra, makasih untuk perjalanan dan pengalaman yang menyenangkan kemarin.




Ciao!

-Gie-



Wednesday, May 23, 2012

Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 3)

Tulamben – Night Dive

Selesai dive ketiga, saya break cukup lama. Karena saya hanya tinggal menunggu untuk night dive bareng si Belih. Sayangnya Bee, belum bisa ikut untuk night dive. Sebelum night dive, Belih Asa membriefing saya tentang cara memakai senter dan kode-kode yang bisa digunakan dengan senter selama penyelaman nanti.

Sekitar jam setengah tujuh kami mulai penyelaman terakhir hari itu. Ini pengalaman pertama saya melakukan night dive. Rasanya beda banget sama nyelem waktu ada matahari. Sensasinya luar biasa. Antara takut, excited, deg-degan kalo ketemu hiu atau nabrak apa gitu. Dan bener aja, beberapa kali karena terlalu asik liat-liat atau bikin foto, saya hampir nabrak/kejedot dinding-dinding kapal. Untung si Belih selalu aware sama keadaan dan ngawasin saya dengan cekatan. Saya takut banget sebenernya selama night dive, dan ketakutan terbesar saya adalah kalau tiba-tiba saya lagi meleng dan kemudian ngarahin senter ke depan…… jeng jeng jeng ada muka hiu di hadapan saya. :-s  Hiu adalah hewan yang paling menyeramkan buat saya. Sumpah, saya takut hiu!!

Dan ketakutan saya itu nyaris terjadi. Beberapa saat sebelum penyelaman selesai, di kejauhan saya ngeliat ikan yang cukup besar dan saya pikir: itu pasti hiu. Biarpun ciut, saya sok berani memfoto ikan itu, sayangnya saya hanya bisa memfoto satu kali, karena setelahnya kamera saya mati total. Si Belih yang ga tau kalo saya lagi ketakutan malah ngedeketin makhluk itu, agak ragu saya ikutin deh ke mana si Belih mengarah daripada saya ditinggal sendirian. Untungnyaaaa ternyata itu bukan hiu, fyuuuhhh… Ternyata oh ternyata itu hanyalah si bumphead yang saya kira hiu. Hohoho,, ga jadi kencing di celana deh saya.


Selesai menyelam seharian hari itu, saya ga bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Saya terlalu senang dengan apa yang saya alami. Walaupun saya sedikit sakit kepala setelahnya, karena kemampuan mengontrol buoyancy saya yang masih cemen jadi sering naik-turun selama diving, tapi perasaan senang dan terpuaskan saya menghilangkan segala kesakitan itu dengan mudahnya. *Tsaaaaaahh….* Yak, I’m so happy that my first trip went really well. And I can’t wait for my next trip. ASAP!


(Ini loooh si bumphead yang saya kira hiu. 
Sayang fotonya kurang jelas karena kameranya udah mau die)