Knowledge and Experience. They just know how to keep me feel alive.....
Friday, February 22, 2013
Perjalanan
Dan lebih seringnya saya memilih untuk traveling. Bagi saya traveling sudah menjadi candu tersendiri. Paling tidak tiga sampai empat bulan sekali saya harus keluar dari rutinitas saya dan pergi ke suatu tempat untuk menjernihkan pikiran kembali, walau untuk 3 atau 4 hari saja. Meskipun jumlah tempat yang saya datangi masih tidak ada apa-apanya dibanding para master traveler lainnya, saya sudah cukup senang. Senang mendapat kesempatan untuk melihat tempat-tempat yang indah dan unik, senang bertemu dengan orang-orang baru dan tentunya senang karena banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang bisa saya dapat melalui perjalanan-perjalanan saya itu.
Tadi malam saya pergi ke bioskop dan menonton "Rectoverso". Film ini dibuat berdasarkan buku berisi kumpulan cerpen yang ditulis Dee Lestari, salah satu penulis Indonesia favorit saya, dengan judul yang sama. Saya sudah baca semua karya Dee, kecuali yang satu ini. Setelah menonton filmnya, saya jadi ingin segera ke toko buku, membeli buku ini dan melahapnya sampai habis secepat mungkin. Singkatnya, dari film yang saya tonton tadi malam, ada salah satu cerita dengan judul "Hanya Isyarat" yang menggerakkan saya untuk menulis tulisan ini.
Di salah satu scene cerita "Hanya Isyarat" ada dua tokoh yang bercerita kenapa mereka memutuskan untuk menjadi backpacker dan melakukan traveling. Saya jadi ikut bertanya pada diri sendiri, "Iya ya. Kenapa saya melakukan traveling?" Sampai detik ini jawaban yang bisa saya berikan dari pertanyaan itu adalah karena saya ingin belajar lebih banyak lagi dan saya ingin merasa HIDUP. Saya tidak ingin belajar hanya dengan duduk di dalam kelas, bagi saya sudah cukup 18 tahun saya duduk belajar di dalam kelas mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga lulus kuliah. Tapi saya ingin langsung terjun berbaur dengan alam dan belajar dari pesonanya. Saya merasa hidup setiap kali saya sedang melakukan perjalanan. Dan perasaan itu luar biasa bagi saya. Sesederhana itulah jawaban saya. Tanpa embel-embel apapun.
Gie
Thursday, November 15, 2012
First time to Aceh-Weh (Day 2)
Kami memulai hari kami sedikit lebih siang hari itu. Sekitar jam 11-an kami check-out dari Hotel Lading, tempat kami menginap di Banda Aceh. Dengan bawaan yang lumayan banyak, kami langsung dibawa menuju Pantai Lhok Nga sama Bang Ade naik becaknya. Perjalanan yang lumayan jauh bikin saya rada-rada masuk angin juga waktu itu. Tapi ga ada penyesalan sama sekali, karena saya jatuh cinta sama langit Aceh di sepanjang perjalanan menuju Lhok Nga. Cakeeeeebbb bangeeeett langitnyaaaa!!
Di perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di depan Sasana Budaya Cut Nyak Dhien (Rumoh Aceh), rumah yang dulunya ditinggali pahlawan wanita dari Aceh, Cut Nyak Dhien. Sayangnya, kami ga bisa masuk dan liat-liat lebih banyak karena ditutup. Sedih deh... tapi perjalanan pun dilanjutkan.
Puas main-main di pantai, foto-foto dan menunggu Si Bang Ade sholat di tengah pantai, kami pun siap-siap untuk menuju ke pelabuhan Ulee Lheue (baca: Ulele). Sebelum ke Ulee Lheue, kami kembali ke pusat kota dulu untuk beli beberapa cemilan, oleh-oleh dan kopi Sanger sachet. Hehehe sepertinya sekali coba kami langsung ketagihan kopi Sanger.
Yeaayy.. finally the time has come for us to cross the sea to Pulau Weh, Sabang!
Dari Ulee Lheue ke pelabuhan Balohan (salah satu pelabuhan di Sabang) dengan kapal cepat kira-kira waktu tempuhnya 45 menit. Rasanya baru juga merem sebentar di kapal udah nyampe. Kapal cepatnya cukup nyaman, dingin dan spacious. Mungkin karena lagi ga ramai dan bulan puasa juga, jadi ga terlalu rame. Sampe di Balohan, kami dijemput supir yang udah kami booking dan langsung diantar menuju Iboih (baca: Iboh). Dari dermaga Iboih, kami naik perahu kecil menuju penginapan kami yang letaknya di tepi pantai: Iboih Inn.
Sisa hari kami hari itu kami habiskan dengan snorkeling di depan penginapan kami, bersantai sambil nyemil Lemang dan menikmati pemandangan sunset di Pantai Iboih. It feels like heaven...
-Gie-
Monday, November 05, 2012
First time to Aceh-Weh (Day 1)
Jadi, seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, sekitar 3 bulan lalu, tepat pada saat memasuki bulan Ramadhan, saya pergi ngunjungin kampung halaman Ibu saya. Kurang lebih selama 5 hari 4 malam saya bersama Bee pergi ke Ujung Barat Indonesia, Banda Aceh dan Pulau Weh (Sabang). By the way, Ibu saya sebenarnya keturunan Jawa, tapi karena Kakek saya jaman dulu bertugas di Aceh, jadilah Ibu saya lahir dan tumbuh selama beberapa tahun awal hidupnya di kota Banda Aceh. Sementara itu, Kakek saya adalah Kepala Jawatan Listrik dan Gas (sebelum berubah nama jadi PLN) yang pertama di Aceh dan Sumatra Utara *sombooong* *ya terooosss??*.
Back to the track, saya dan Bee menghabiskan hari pertama dan kedua di Banda Aceh dengan berkeliling kota naik Becak. Becak di Aceh beda sama apa yang biasa kita sebut becak di Jakarta, Bekasi dan sekitarnya. Di sana becaknya bukan becak yang harus digenjot sama si Abang, tapi becak motor. Jadi lebih cepet dan nyaman juga. Ongkos nyewa becak yang kami keluarkan untuk 2 hari itu sekitar 150 ribu rupiah, 100 ribu untuk hari pertama (dari jam 1 siang sampe jam 8 malam) dan 50 ribu untuk hari kedua (dari jam 11 siang sampe jam 3.30 sore). Lumayan kan?
Hari pertama di sana kami cukup memaksimalkan keadaan, karena waktu itu hari terakhir sebelum masuk bulan Ramadhan. Begitu kami tiba di bandara Sultan Iskandar Muda kami langsung naik bus Damri menuju ke pusat kota. Jalanan di Banda Aceh sudah bisa ditebak tidak seramai di Jakarta. Apalagi waktu itu kami pergi hari Jumat, yang ternyata banyak orang tidak berkegiatan apa-apa alias libur di hari itu. (Enak banget ya cyiiiinn tiap Jumat libur :p) Sampai di pusat kota kami bertemu dengan Masjid Raya Baiturrahman. Subhanallah cantik dan megah banget bangunannya. Sayang kami ga bisa masuk karena setiap wanita yang mau masuk ke sana WAJIB pakai rok panjang, ga boleh pakai baju ketat dan harus berkerudung.
Selesai makan, saya langsung request sama si Abang buat bawa kami ke komplek perumahan PLN. Saya penasaran sama rumah masa kecil ibu saya. Dan inilah saya pasang pose di samping bekas rumah tinggal Ibu saya dulu:
Di seberang bekas rumah Ibu saya ada Taman Putroe Phang. Ga mau rugi dong yaaa mumpung masih ada waktu jadilah kami mampir masuk ke dalam dan liat-liat. Usut punya usut ternyata taman itu terkenal sebagai 'tempat pacaran' anak muda di sana. Naah.. Makanya sering banget ada polisi syariah yang menyatroni taman itu. Pas banget waktu saya keluar dari taman, ada segerombolan polisi syariah dateng. Si Abang langsung buru-buru nyuruh kami pake kerudungan kami dan ngajak cabut dari situ.
Oia, kalau ada yang berminat berlibur ke Aceh dan sekitarnya saya sangat menyarankan untuk berpakaian sopan dan (khusus wanita) mendingan bawa syal/kerudungan gitu deh buat nutupin pala. Yah.. itung-itung ikut menghargai adat dan budaya di sana, daripada jadi tontonan orang-orang karena mengumbar aurat. Ya kaan? :)
Puas berkunjung ke rumah masa kecil Ibu dan Putroe Phang, kami melanjutkan perjalanan buat ngeliat bekas kapal yang kebawa Tsunami sampai ke tengah kota. Begitu ngelihat "PLTD Apung 1"di tengah perumahan penduduk, saya baru sadar betapa dahsyatnya Tsunami yang menghantam Aceh beberapa tahun lalu. Gilaaaaa kapal segede gaban dan seberat dosa gitu bisa kebawa dari laut sampe ke tengah-tengah pemukiman penduduk!!
Hari itu kami juga ngunjungin satu lokasi lainnya, "Kapal di Atas Rumah Lampulo". Di situ ada kapal nelayan yang nyangsang di atas rumah orang. Bikin ngelus dada ngeliatnya, karena jadi kebayang banget suasana waktu kejadian Tsunami dulu. :(
Di sisa hari pertama, kami juga pergi ke tugu Aceh Thanks The World dan mejeng depan Museum Tsunami. Cuma mejeng doang karena keburu tutup museumnya gara-gara udah kesorean. -_-"
Anyhow, we had so much fun at day 1 and so excited for day 2! Cerita hari keduanya akan saya posting sesegera mungkin. Mohon ditunggu dan sabar ya para pembaca yang budiman. (Macam banyak aje pembacanya). Hehehe.
('▿^)♉
-Gie-
Friday, August 31, 2012
Tuesday, July 17, 2012
I just can't wait!
After those hecticness I had, I just can't wait to go for some relaxing days at the beach. Yup, this weekend I am going to have another trip for 5 days. This time I choose to go to my mom's hometown. I am so excited to see the place where my mom was born. And of course not only to see my mom's hometown, I am also really really excited to do deep dive there. Yeay!!
This trip is just what I need for now. So, I can't wait any longer. *grin*
Wednesday, June 13, 2012
Para.. para..
Acrophobic berarti orang yang takut ketinggian, dan saya salah satunya. Saya ga bisa ingat sejak kapan saya takut ketinggian. Yang saya ingat, saya selalu deg-degan dan sedikit gemetar tiap kali harus menyeberang dengan jembatan penyeberangan (terutama jembatan penyeberangan di gerbatama UI, yang juga menyeberangi rel kereta. Tinggi banget!!). Saya selalu ingin nutup mata tiap kali naik lift yang kacanya transparan. Saya ga berani liat ke bawah tiap kali naik eskalator atau jalan-jalan di mall, karena kalau saya lakukan perut saya rasanya langsung mual. Pernah satu kali saya pergi ke Anyer dan saya naik ke puncak sebuah mercusuar bersama beberapa teman, saya hanya berani duduk merapat ke tembok sambil berpegang erat-erat ke pagar penyangga dengan wajah pucat sementara teman-teman saya asyik bergaya dan berfoto. Saya juga pernah dipaksa naik wahana Kora-Kora di Dufan oleh beberapa teman, dan saya hanya bisa menutup mata, merasakan jantung saya hampir copot sampai akhirnya tangisan saya pecah di atas wahana itu.Yah, itulah saya.
Sering kali saya dapat ucapan dari teman-teman saya seperti, "Ga asik lo! Gitu aja takut.Cupu!" atau "Gaya tengil macam jagoan tapi ga berani nyoba yang tinggi-tinggi". Puas deh sepanjang hidup saya denger omongan kayak gitu. Saya cuma bisa cengar-cengir kecut tiap kali denger semua ucapan teman-teman saya tadi. Ga masalah mereka mau bilang apa, selain sama hiu, saya emang takut juga sama yang namanya ketinggian, jadi mau gimana lagi.
Tapi biarpun takut tinggi, saya ga takut naik pesawat. Karena mungkin saya merasa aman berada di dalamnya. Saya jadi ingat pengalaman pertama saya naik pesawat, antara excited dan takut setengah mati. Saya tidak akan pernah lupa penerbangan pertama saya ke Bali dengan 3 orang teman. Waktu itu saya dapat tempat duduk terpisah dari 3 teman saya tersebut, tapi karena teman saya tahu persis kalau itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat dan saya sebenarnya penakut, jadilah saya bertukar posisi dengan salah seorang teman. God bless her :-p. Saat take off dan landing adalah saat-saat yang paling saya ga suka. Lagi-lagi saya menutup mata plus menggenggam erat-erat bangku pesawat (dan tangan teman saya) ketika itu. Walaupun diketawain sama teman saya, saya udah ga mau ambil pusing dan tetep melanjutkan ritual tersebut. Sampai sekarang pun, tiap kali take off dan landing dengan pesawat, saya lebih suka menutup mata saya, mengatur napas sedemikian rupa dan berpegang pada sesuatu sambil komat-kamit dalam hati: All is well... All is well...
Saya ga tau apakah acrophobia saya ini termasuk dalam ukuran parah, lumayan atau biasa-biasa saja. Tapi saya sudah membulatkan tekad untuk pelan-pelan mengatasinya. Beberapa waktu lalu tercetuslah sebuah ide dari teman saya untuk mencoba tandem paragliding (paralayang) di Puncak. Di satu sisi saya tertarik banget untuk nyoba, saya selalu senang dan penasaran dengan hal-hal baru. Tapi di sisi lain, saya ga berani membayangkan betapa tingginya nanti saya akan melayang, di alam terbuka, tanpa pelindung apa-apa. Bayangan seperti parasut yang ga akan terbuka atau tiba-tiba saya jatuh dari ketinggian melintas di kepala saya. I'm terrified, but I have to face it. I want to experience it so bad. Maka, saya pun mengiyakan ajakan itu.
Dan jadilah saya, tepat tanggal 19 Mei 2012 lalu, terbang pertama kali dengan paralayang dan berhasil melawan ketakutan-ketakutan saya. Saya mungkin lebay, tapi saya bangga bukan main. Hehehehehe. Bukan hal gampang bagi saya untuk yakin terus berlari sampai parasut membawa saya terbang melayang di ketinggian berpuluh-puluh meter dari atas tanah tempat saya berpijak sebelumnya. Saya harus melihat 2 teman saya lebih dulu melaluinya dan mendengar komentar mereka sebelum saya memutuskan untuk ikut mencoba. Tangan saya harus terus mengeluarkan keringat dingin tiap kali saya berdoa dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja dan saya tidak akan jatuh. Kaki saya harus gemetar terus-terusan sebelum angin akhirnya datang dan saya diminta berlari sekuat tenaga sampai saya melayang. Bahkan pada saat berlari saya harus menggigit bibir saya karena ketegangan yang saya rasakan.
Pada akhirnya, ketika saya sudah terbang tinggi, saya merasa perut saya bergejolak. Bukan karena mual, tapi lebih karena senang. Senang merasakan angin sejuk yang menerpa wajah saya. Senang karena saya bisa merasa aman melihat pemandangan di bawah saya. Senang karena ternyata bayangan-bayangan seram dalam kepala saya sebelumnya ga terjadi. Rasanya campur aduk, walaupun masih tersisip sedikit rasa takut jauh di dalam pikiran dan hati saya. The feeling was amazing. Such a great sensation I can say! Sensasi yang serupa tapi tak sama yang saya rasakan tiap kali saya menyelam. Aaaahh saya suka sensasi itu. Sensasi itu membantu saya bernapas lega ketika tiba waktunya untuk saya perlahan terbang merendah dan mendarat kembali di tanah. I nailed it!
Pengalaman saya kali ini pastinya ga akan pernah saya lupain. Benar-benar pengalaman pertama saya 'terbang'. Tanpa pesawat. Dari pengalaman ini saya belajar kalau ketakutan itu bisa diatasi pelan-pelan. Walaupun ga sepenuhnya hilang, tapi bisa dikurangi dan saya jadi lebih percaya dengan diri sendiri. Untuk Bee, -i-, Dea dan Chirra, makasih untuk perjalanan dan pengalaman yang menyenangkan kemarin.
Ciao!
-Gie-
Wednesday, May 23, 2012
Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 3)
Selesai dive ketiga, saya break cukup lama. Karena saya hanya tinggal menunggu untuk night dive bareng si Belih. Sayangnya
Bee, belum bisa ikut untuk night dive.
Sebelum night dive, Belih Asa
membriefing saya tentang cara memakai senter dan kode-kode yang bisa digunakan
dengan senter selama penyelaman nanti.
Dan ketakutan saya itu nyaris terjadi. Beberapa saat
sebelum penyelaman selesai, di kejauhan saya ngeliat ikan yang cukup besar dan
saya pikir: itu pasti hiu. Biarpun ciut, saya sok berani memfoto
ikan itu, sayangnya saya hanya bisa memfoto satu kali, karena
setelahnya kamera saya mati total. Si Belih yang ga tau kalo saya lagi
ketakutan malah ngedeketin makhluk itu, agak ragu saya ikutin deh ke mana si
Belih mengarah daripada saya ditinggal sendirian. Untungnyaaaa ternyata itu
bukan hiu, fyuuuhhh… Ternyata oh ternyata itu hanyalah si bumphead yang saya kira hiu. Hohoho,, ga jadi kencing di celana deh
saya. Selesai menyelam seharian hari itu, saya ga bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Saya terlalu senang dengan apa yang saya alami. Walaupun saya sedikit sakit kepala setelahnya, karena kemampuan mengontrol buoyancy saya yang masih cemen jadi sering naik-turun selama diving, tapi perasaan senang dan terpuaskan saya menghilangkan segala kesakitan itu dengan mudahnya. *Tsaaaaaahh….* Yak, I’m so happy that my first trip went really well. And I can’t wait for my next trip. ASAP!
Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 2)
Hari kedua kami di Bali adalah hari ujian diving untuk Bee. Untuk bisa dapat diving license PADI, Bee setidaknya harus 4 kali menyelam dan mengikuti ujian tertulis. Bulan Maret lalu, Bee sudah ikut ujian tertulisnya dan sudah menyelesaikan 1 kali dive di Pantai Sanur. Jadi, masih ada 3 dive lagi yang harus diselesaikan. Sementara saya, ga mungkin dong saya nungguin Bee doang, dengan bengang-bengong di pinggir pantai. Hehehe. Jadilah saya ambil 3 kali day dives dan 1 night dive dari dive operator yang sama dengan tempat Bee ambil license, yaitu Bali MarineSports. (untuk info tambahan aja: biaya untuk 3 day dives dan 1 night dive kurang lebih 1,3 juta di sana, sudah termasuk sewa alat dan senter untuk night dive). Dan hari itu, kami akan menyelam di Tulamben, Bali Timur. One of the best dive spot in the world! Woooohoooo…. :D
Saat dive pertama,saya masih kagok untuk mengambil foto di bawah laut. Saya terlalu takjub dengan apa yang saya lihat. Jadilah Belih Asa yang baik hati, mengambil alih kamera saya dan beberapa kali mengajari saya mengambil gambar dengan angle yang bagus. Saking baiknya, malahan si Belih beberapa kali memfoto saya yang sedang diving sambil bergaya. Hehehe. Dan waktu kami berpapasan dengan serombongan school fish, si Belih membawa saya ke dalam pusaran ikan-ikan itu dan mengambil foto saya dengan mereka. Yak, si Belih tau betul kalo fun diver pemula seperti saya suka narsis. *nyengir kuda sambil berpose peace*
Puas dengan penyelaman kedua, kami istirahat lagi. Waktu saya
selesai penyelaman kedua ternyata Bee sudah selesai dengan ujiannya, dan dia
lulus. 3 kali dive sukses dilahap Bee. I’m
proud of you, girl! Dan sepertinya karena Bee juga udah mulai ketagihan,
akhirnya dia memutuskan untuk ikut saya dan Belih Asa di penyelaman ketiga
kami. Jadilah kami menyelam bertiga menuju spot coral garden. Dari namanya aja
udah jelas banget kalo di spot yang satu ini pasti banyak karang-karang berwarna
warni dan ikan-ikan kecil. Di sini kami bertemu dengan clown fish a.k.a nemo yang lagi asik main-main di anemon. Ada juga moray eel, nudibranch lagi dengan warnanya yang nyentrik, tube worm, starfish daaaaann
puffer fish alias ikan buntal.Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 1)
Hari pertama kami pergi ke Padang Bai untuk snorkeling.
Sekalian juga, saya mau nge-test si housing
baru. Awalnya agak deg-degan juga sih, takut housingnya leak/bocor. But thank God, it
didn’t happen. Di Padang Bai, kami nyewa
perahu jukung selama 2 jam dengan biaya sewa 250 ribu. Mungkin bisa lebih murah
dari itu, tapi saya udah males nawar dan pengen cepet-cepet nyemplung aja. Dengan
nyewa jukung selama 2 jam, 1 jam pertama kami snorkeling di Tanjung Jepun dan 1
jam berikutnya di Blue Lagoon. Wednesday, January 04, 2012
Cerita akhir dan awal tahun
Jadi, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pergantian tahun akan saya habiskan di Pulau Pramuka dengan rombongan dari klub diving Hammerhead untuk ujian sertifikasi. Dengan berbekal semangat '45, sekitar jam 6.30 pagi berkumpulah kami, rombongan yang kurang lebih terdiri dari 15 orang (saya, Robin, Bee, *Wawan/Buntal/Raras beserta para instruktur dan peserta lainnya), di pelabuhan Muara Angke. Ini pertama kalinya saya merasakan berangkat dari Muara Angke (biasanya dari Marina cyiiiinn..). Pertama kalinya juga bagi Robin pergi ke kepulauan seribu.
Seperti sudah diduga, pagi itu Muara Angke rameeeeeeeee bangeeeeeettt. Macam musim mudik, ribuan orang berjubel di sana. Disambut dengan cuaca gerimis-gerimis mengundang, bikin jalanan jadi becek-becek banjir. Ditambah bau amis makhluk laut bercampur lumpur dan aroma tak sedap dari perairan yang kotor, inilah awal dari 'kesenangan' kami.
Kalau mood saya lagi acak kadut, mungkin saat itu juga saya bakalan milih pulang dan pergi lain waktu aja. Tapi, karena keinginan untuk nyebur ke laut udah menggebu-gebu, saya memilih untuk tetap santai dan menikmati setiap momen hari itu. Sayangnya, hari itu malah jadi semakin parah. Saking ramenya, semua orang dalam sekejap berubah jadi bar-bar. Setiap ada kapal datang, semua langsung berkerubung dan rebutan dulu-duluan naik ke kapal. Karena rombongan kami yang banyak, barang bawaan yang juga ga sedikit dan berat (karena bawa peralatan selam), kami ga bisa segesit orang-orang lain. Alhasil, jadilah kami terdampar selama kurang lebih 10 jam di Muara Angke, saudara-saudara!!!!
Ya, selama itu. Bisa dibayangkan, sudah berapa kali kami ganti gaya di sana. Dari mulai berdiri, jongkok, foto-foto, duduk, berdiri lagi, tidur, foto-foto lagi, sampe berdiri sambil tidur, kami lakukan di sana. Dari mulai basah kehujanan, kering, basah keringetan karena terjemur matahari sampe akhirnya badan kami terpanggang well done seluruhnya dan siap disantap. Gilaaaaaaaaaa........ Bahkan bau Muara Angke pun sepertinya sudah menyatu dengan bau badan kami.
Baru sekitar jam 4 sore kami dapat kapal menuju Pramuka. Kapal Dolphin namanya. Itupun masih berebutan dengan sisa-sisa manusia amis lainnya yang terdampar di Angke. Masuk kapal, saya, Robin, Bee dan Wawan dapat duduk di sebelah abege-abege alay yang ga jelas banget mau ngapain sama hidupnya. Kenapa saya bilang gitu? Ini alasannya (percakapan yang saya dan Wawan dengar di antara mereka) :Alay 1 : "Eh ini kapal ke mana sih?"
Alay 2 : "Iya ke pulau apa nih kita?"
Alay 3 : "Gue ga peduli deh ke pulau apa aja. Yang penting gue taun baruan di Pulau"
Saya dan Wawan : *Waaakkwaaaoooo.... Eeeeeaaaaaa... Teeerooorreeeett toooreeettt.... -_____-"*
Denger yang kyak gitu rasanya pengen saya jitak-jitakin satu-satu kepala bocah-bocah itu. Well, saat itu saya pikir "yaudalah yaaa, cuma 3 jam ini di perjalanan sama mereka. Bodo amat deh." Dan ternyata saya salah besar. Sepertinya kata-kata expect the unexpected tepat banget untuk menggambarkan hari itu. Baru satu setengah jam perjalanan, kapalnya mogok. Dan kami pun terombang-ambing di tengah laut.
Dan satu jam sebelum pergantian tahun, saya dan rombongan akhirnyaaaaaa tiba juga di tempat tujuan. Pengen langsung sujud syukur cium tanah rasanya bisa sampe juga dengan selamat. Bayangin aja, perjalanan yang kami tempuh hari itu sebanding dengan perjalanan Jakarta-Amsterdam dengan pesawat terbang. Perasaan saya udah campur aduk sama seperti isi perut dan otak saya yang teraduk-aduk dan berceceran selama perjalanan di laut dengan ombak lumayan besar. Saya dan rombongan pun langsung menuju penginapan, makan malam, mandi dan tepat jam 12 saling mengucapkan selamat tahun baru, sebelum akhirnya pergi tidur.
Besoknya, hari pertama di tahun 2012, jam 6 kurang kami sudah dibangunkan untuk bersiap-siap pergi menyelam. Yeeeaayyy!! Karena waktu banyak terbuang di hari sebelumnya, jadilah hari itu kami harus bergerak lebih cepat. Untuk ujian sertifikasi minimal kami harus dapat 3 kali menyelam. Sedihnya hari itu Bee jatuh sakit. Fisiknya drop karena perjalanan yang kami alami hari sebelumya. Bee terpaksa harus istirahat di penginapan dan ikut ujian pada trip selanjutnya. (Tetap semangat, Buns! :-) )
Setengah hari pertama di tahun baru saya habiskan kembali di tengah laut untuk ujian menyelam. Tiga kali menyelam lumayan membayar apa yang sudah saya alami hari sebelumnya. Saya senang! Ujian saya berjalan lancar, tanpa ada gangguan berarti. Pencapaian pertama saya di tahun ini : Punya diving license! ^_^ *walaupun belum beneran dipegang barangnya* Puas juga akhirnya bisa ngelakuin dan ngedapetin yang saya udah lama mau. Hehehe.
Dan tepat jam 5 sore hari itu, kami kembali naik kapal menuju Muara Angke. Untungnya perjalanan pulang ga pake mogok-mogok segala. Walaupun pake rusuh juga pas naik kapal, tapi semuanya jauh lebih aman dibanding waktu berangkat. Perjalanan pulang pun hanya makan waktu 2,5 jam saja. Alhamdulillah. Masih ada aja yang bisa disyukuri, kan? Semoga aja kelancaran di awal tahun yang saya dapat, bisa terus bertahan jadi keberuntungan dan kelancaran untuk saya di sepanjang tahun dalam segala hal.
So, this is my story. What's yours?
-Gie-
Notes:
*Wawan/Buntal/Raras : sejenis makhluk jadi-jadian dari dalam laut, yang saya kenal lewat Bee.
- Foto-foto lainnya mungkin menyusul nanti :)
Tuesday, September 06, 2011
Day 7-9 : Jelajah Roma
Sekarang, dalam pikiran saya begitu banyak cerita yang ingin saya bagi di sini, tapi saya bingung harus memulai dari mana. Hehehe. Karena ada banyak tempat yang indah dan luar biasa di Roma yang kami kunjungi. Buat saya, Roma adalah kota yang sangat cantik. Sama seperti Paris, di setiap sudut di kota Roma, pasti selalu ada spot yang bagus dan indah untuk diabadikan. Tiap kali mata memandang, gedung-gedung tua nan megah selalu ada di sekeliling kami. Saya jatuh cinta seketika dengan kota tersebut.
Tapi sayangnya, walaupun kotanya sangat indah, saya tidak terlalu terkesan dengan manusia-manusianya. Keindahan kota Roma, tidak seiring sejalan dengan sebagian besar penduduknya yang menyebalkan dan tidak terlalu ramah. Ada beberapa orang yang kami temui memang sangat-sangat ramah, tapi kebanyakan di antaranya juga sangat-sangat menyebalkan dan berkelakuan buruk. *sigh* Anyhow, tidak bisa dipungkiri kalau selama di sana, saya dan Bee, seringkali "zina mata" setiap kali melihat manusia-manusia yang rupawan berjenis kelamin laki-laki dengan hidung mancung, sedikit brewokan, dan alis yang begitu rapi seperti habis dirapikan di salon. Hahaha. Kasep pisan euuuyyy!!
Beberapa tempat yang sempat kami kunjungi selama 3 hari kami berada di sana di antaranya adalah Colosseum, Trevi Fountain, Piazza Navona, Pantheon, Vatican dan masih banyak lagi. Kami membuat banyak foto dan video selama kami berada di Roma. Dan saya akan membagi beberapa foto tersebut di sini dan membiarkan foto-foto ini yang bercerita. :-)
| (Saya dan Robin berfoto di dalam Colosseum yang megah. Arenanya para Gladiator!) |
| (Pantheon. Dengan kereta kuda di depannya, seperti dalam dongeng.) |
| (Kami berempat di depan Trevi Fountain. Kami ikut melempar koin ke dalam kolam dan ya semoga saja kami bisa kembali lagi ke sana suatu hari nanti. Amin.) |
| (Suasana di sekitar "Spain Stairs": Ramai!!) |
| (Masih di Spain Stairs, foto dari atas. Lautan manusia.) |
| (Di sebuah cafe, di pinggir jalan. Erik ordered a super tiny glass of espresso for 2 euro.) |
| (Mas-mas bule mejeng di depan St. Peter's Basilica yang terkenal di Vatican.) |
| (Salah satu penjaga di St. Peter's Basilica. Cute banget yaaa bajunya :-p. Konon katanya yang merancang baju itu adalah Michelangelo, tapi ada beberapa pihak yang masih meragukannya.) |
| (Mamma Mia! Italiana Pizza!) |
Thursday, September 01, 2011
Day 5 : hari tenang..
Saya kagum dengan apa yang bisa saya lihat selama saya di sini. Di tengah kota sekalipun, saya masih bisa bersepeda dengan aman dan mendapati hutan atau pun taman tempat orang bisa bersantai atau berolahraga. Hijau dan segar. Ga cuma itu, tapi ada banyak sungai atau danau yang bersih (ga penuh sampah dan bau seperti di Jakarta) di daerah perumahan yang ada. Cantik. Saya jadi semakin tidak ingin pulang. Di sini saya belum pernah mengalami sakit kepala, migrain, flu atau demam yang sering saya rasakan sebelumnya. Saya merasa benar-benar sehat. Mungkin karena udara yang bersih dan tidak banyak polusi. Dan tentunya di sini jarang banget saya ketemu sama yang namanya macet, jadi saya juga ga gampang stress. Hehehe.
Beruntung rasanya saya bisa melalui liburan kali ini. Benar-benar liburan, meluangkan waktu untuk diri saya menikmati hidup, tanpa harus dikejar-kejar pekerjaan dan tanggung jawab. It feels unreal, but I really love this moment. Aaaaahh saya benar-benar ga ingin ini cepat berakhir dan harus kembali ke dunia nyata. Sekarang yang harus saya lakukan adalah menikmati setiap detik yang saya punya di sini, supaya saya bisa me-refresh hati, pikiran dan fisik saya untuk kembali ke kenyataan nanti. Oiya, saya belum mengucapkan di sini : Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi semua yang merayakan! Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Mari kita memulai lagi dari awal, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. :-)
Salam dari Belanda,
Gie
Day 3 - 4 : Prettige suikerfeest! Happy Ied Mubarak!
Lebaraaaan dataaaang!!! Yak, walaupun di Indonesia banyak gunjang-ganjing tentang ketidakjelasan kapan Hari Raya Idul Fitri dirayakan, tapi di sini sudah ditetapkan kalau kami akan berlebaran hari Selasa, 30 Agustus 2011. Saya senang sekaligus sedih. Senang karena ini akan jadi pengalaman pertama saya berlebaran di negeri orang, tapi sedih juga karena saya tidak menjalankan Shalat Ied dan berkumpul dengan keluarga tercinta.
Tahun ini saya Shalat Ied di Masjid Al-Hikmah yang ada di Den Haag. Berbeda dengan di Jakarta yang biasanya Shalat Ied dimulai jam 7 pagi, kalau di sini Shalat mulai jam 10 pagi. Shalat berjalan cukup khidmat dan teratur. Jujur, saya sedikit kaget karena ternyata lumayan banyak umat muslim yang ikut menjalankan Shalat Ied di sini. Masjid yang tidak terlalu besar itu pun, jadi sedikit sesak karena banyak orang (sebagian besar orang Indonesia) datang dari berbagai kota di Belanda untuk sama-sama menjalani Shalat Ied.Selesai Shalat, saya, Robin, Dain dan Dennis segera meluncur ke Wassenaar untuk acara Halal Bihalal bersama Kedutaan Besar Indonesia di Belanda. Kalau kata orang-orang Belanda sih daerah Wassenaar ini salah satu daerah tempat orang-orang kaya tinggal. Jadi, ga heran kalau rumah-rumah di sana jauh lebih besar dibanding rumah-rumah Belanda umumnya. Rumah tempat tinggal duta besar Indonesia untuk Belanda di sana cukup besar dan halamannya luas. Di halaman rumah, dibangun beberapa tenda-tenda makanan, minuman dan ada juga panggung kecil untuk pengisi acara hari itu. Makanan yang disajikan hari itu merupakan menu lengkap lebaran, ada ketupat, rendang, sambel goreng ati dan kawan-kawannya, dan semuanya enaaakk! Paling engga makanan-makanan itu bisa mengobati kesedihan saya dan Dain karena ga bisa merayakan Idul Fitri bareng keluarga.
Dari acara halal bihalal kami kembali ke Amsterdam lagi. Karena saya masih mau beli beberapa souvenir/oleh-oleh, dan kami juga sudah janjian akan ketemu Bee dan Erik di sana. Buat saya, Amsterdam di siang hari lebih menarik dibanding pada saat malam. Karena lebih banyak yang bisa dilihat dan toko-toko juga lebih banyak yang buka. Tapi sayang, karena waktu yang terbatas akhirnya kami memutuskan untuk menikmati waktu kami di sebuah cafe dekat De Dam sebelum belanja souvenir dan pulang.
DAY 4
Karena satu dan lain hal, saya dan Robin memutuskan untuk menghabiskan satu malam lagi menginap di tempat Dain. Jadi, hari keempat saya di sini, saya habiskan untuk jalan-jalan di Leiden. Hari ini saya mencoba makanan baru, "Vlaai" dan "Kibbling". Vlaai lebih seperti kue/pai untuk dessert dan Kibbling itu sejenis ikan yang digoreng dan dimakan dengan saus seperti mayonaise. Lekker zeg!
Walaupun belum puas menelusuri jalan-jalan di Leiden, tapi saya dan Robin sudah harus kembali ke Arnhem supaya bisa ikut makan malam keluarga. Kami berpisah dengan Dain di stasiun dan rencananya akan bertemu lagi kalau masih memungkinkan minggu depan. Semoga saja.
Tuesday, August 30, 2011
Day 2: Last day fasting..
Sunday, August 28, 2011
Day 1 : We are soooo excited!
Tuesday, November 30, 2010
The Sisters' Short Trip
Friday, August 06, 2010
It is tomorrow!
Friday, January 29, 2010
Menapak tanah eropa (lagi).
Bukannya tanpa tujuan gw bisa berada di sana selama itu. Robin yang mengundang gw untuk datang ke sana dengan tujuan mengenalkan gw kepada keluarganya. Gw sangat senang sekaligus beruntung karena bisa menikmati liburan bersalju yang cukup panjang di sana dan bisa ketemu langsung dengan orang tua, adik, tante, oma, opa, keluarga dan teman-teman Robin lainnya, termasuk bertemu Erik lagi (silakan baca tulisan-tulisan gw sebelumnya).
Walaupun ini bukan pertama kalinya gw terbang ke Belanda, tetap aja gw merasa nervous dan deg-degan dari sebelum berangkat, selama perjalanan, bahkan sampai saatnya kembali ke Indonesia. Mungkin lebih dikarenakan karena gw tidak cukup pede untuk bertemu Robin dan keluarganya. Maklumlah kan gw memang orang yang sangat pemalu. Hehehe.
Banyak pengalaman seru selama gw berkunjung ke Belanda kali ini. Salah satunya adalah saat itu pertama kalinya gw melihat, mencicipi, dan bermain dengan yang namanya "SALJU". Hehehe. Gw cukup beruntung bisa bertemu dengan salju, tapi gw juga merasa sedikit tersiksa karena udara di sana dingin banget, sekitar 0 (nol) sampe -5 (minus lima) derajat celcius. Brrrrrr!!
Untungnya, biarpun banyak hal baru yang gw lalui di sana (positif atau pun negatif), Robin dan keluarganya selalu menjaga gw dengan baik. Mungkin karena sepanjang liburan kemarin gw tinggal di rumah orang tuanya Robin. Orang tua dan adiknya yang awalnya bikin gw ketakutan dan nervous sebelum bertemu mereka ternyata sangat jauh berbeda dari bayangan gw. Mereka sangat ramah, baik dan terbuka. I like them actually! :)
Anyway, seperti biasa gw akan bercerita dengan beberapa foto pilihan yang gw ambil waktu gw di sana. Here they are. Enjoy!!
Jalan-jalan di Sonsbeek Park, Arnhem. Waktu itu gw berasa sedang berada di dalam kulkas karena dingin banget! Akhirnya gw minta untuk buru-buru pulang karena jari-jari kaki dan tangan gw mulai terasa sakit saking dinginnya. Jadi berasa norak dan kampungan saat itu. :(
Robin and his family. From left to right: Dennis (Robin's younger brother), Ronald (Robin's father), Joke (Robin's mom), and Robin himself.
Mampir ke bar milik organisasi kampusnya Robin, Roderick. Pretend to be a DJ.
Walaupun gw ga merayakan Natal, ga ada salahnya kan berfoto bareng sinterklas. Hehehe.
Our favorite drink: Chocolademelk met slagroom.
Jadi, begitulah kira-kira pengalaman dan cerita yang bisa gw bagi selama 12 hari gw di sana. Sebenernya masih banyak cerita, foto dan pengalaman yang ingin gw bagi, tapi mungkin lain kali aja atau melalui media yang berbeda alias ga di blog ini. Hehehe. Intinya sih gw sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk bisa kembali mengunjungi negeri kincir angin dan mengenal langsung orang-orang terdekat Robin selama dia di sana. Dan semoga kesempatan-kesempatan berikutnya masih akan datang. Amin!
Cheers,
Gie








