Knowledge and Experience. They just know how to keep me feel alive.....


Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Friday, February 22, 2013

Perjalanan

Saya lupa sejak kapan saya jadikan traveling sebagai salah satu dari sekian banyak hobi saya. Yang pasti saya mulai berani traveling setelah bisa menghasilkan uang yang cukup untuk diri sendiri, bisa memberi sedikit pada orang tua, dan masih ada sisa untuk ditabung serta traveling. Walaupun sampai sekarang pilihan, untuk sisa uang yang saya hasilkan, masih sering antara ditabung atau untuk traveling. Belum bisa untuk keduanya. *ngenes*

Dan lebih seringnya saya memilih untuk traveling. Bagi saya traveling sudah menjadi candu tersendiri. Paling tidak tiga sampai empat bulan sekali saya harus keluar dari rutinitas saya dan pergi ke suatu tempat untuk menjernihkan pikiran kembali, walau untuk 3 atau 4 hari saja. Meskipun jumlah tempat yang saya datangi masih tidak ada apa-apanya dibanding para master traveler lainnya, saya sudah cukup senang. Senang mendapat kesempatan untuk melihat tempat-tempat yang indah dan unik, senang bertemu dengan orang-orang baru dan tentunya senang karena banyak pengalaman dan pelajaran hidup yang bisa saya dapat melalui perjalanan-perjalanan saya itu.

Tadi malam saya pergi ke bioskop dan menonton "Rectoverso". Film ini dibuat berdasarkan buku berisi kumpulan cerpen yang ditulis Dee Lestari, salah satu penulis Indonesia favorit saya, dengan judul yang sama. Saya sudah baca semua karya Dee, kecuali yang satu ini. Setelah menonton filmnya, saya jadi ingin segera ke toko buku, membeli buku ini dan melahapnya sampai habis secepat mungkin. Singkatnya, dari film yang saya tonton tadi malam, ada salah satu cerita dengan judul "Hanya Isyarat" yang menggerakkan saya untuk menulis tulisan ini.

Di salah satu scene cerita "Hanya Isyarat" ada dua tokoh yang bercerita kenapa mereka memutuskan untuk menjadi backpacker dan melakukan traveling. Saya jadi ikut bertanya pada diri sendiri, "Iya ya. Kenapa saya melakukan traveling?" Sampai detik ini jawaban yang bisa saya berikan dari pertanyaan itu adalah karena saya ingin belajar lebih banyak lagi dan saya ingin merasa HIDUP. Saya tidak ingin belajar hanya dengan duduk di dalam kelas, bagi saya sudah cukup 18 tahun saya duduk belajar di dalam kelas mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga lulus kuliah. Tapi saya ingin langsung terjun berbaur dengan alam dan belajar dari pesonanya. Saya merasa hidup setiap kali saya sedang melakukan perjalanan. Dan perasaan itu luar biasa bagi saya. Sesederhana itulah jawaban saya. Tanpa embel-embel apapun.


Gie 

Thursday, November 15, 2012

First time to Aceh-Weh (Day 2)

Hari kedua kami di Banda Aceh adalah hari pertama bulan Ramadhan di taun ini. Naaahh.. keputusan yang kami bikin untuk pergi saat bulan Ramadhan ke Aceh, bisa dibilang agak-agak bodoh yet challenging. Karena cari makan pas bulan puasa di Aceh itu susaaaaaaahhnya naudzu bilah minzalik. Saya yang emang lagi ga puasa sampe harus ikutan puasa hari itu. Zzzzzzzzz......

Di bulan Ramadhan hampir semua toko tutup sepanjang siang. Kebanyakan toko cuma buka sesaat sebelum buka puasa, terus tutup lagi pas waktunya tarawih dan kembali buka setelah tarawih untuk 1 atau 2 jam saja. Jadi, kami terpaksa skip makan siang hari itu. Untungnya kami masih dapat sarapan roti dari hotel, walopun sarapannya udah disediain dan dikasiin ke kamar dari malam sebelumnya. -_-"

Kami memulai hari kami sedikit lebih siang hari itu. Sekitar jam 11-an kami check-out dari Hotel Lading, tempat kami menginap di Banda Aceh. Dengan bawaan yang lumayan banyak, kami langsung dibawa menuju Pantai Lhok Nga sama Bang Ade naik becaknya. Perjalanan yang lumayan jauh bikin saya rada-rada masuk angin juga waktu itu. Tapi ga ada penyesalan sama sekali, karena saya jatuh cinta sama langit Aceh di sepanjang perjalanan menuju Lhok Nga. Cakeeeeebbb bangeeeett langitnyaaaa!!

 Di perjalanan, kami sempat berhenti sebentar di depan Sasana Budaya Cut Nyak Dhien (Rumoh Aceh), rumah yang dulunya ditinggali pahlawan wanita dari Aceh, Cut Nyak Dhien. Sayangnya, kami ga bisa masuk dan liat-liat lebih banyak karena ditutup. Sedih deh... tapi perjalanan pun dilanjutkan.

(Penampakan rumah Cut Nyak Dhien dari luar)
Akhirnya, setelah hampir menghabiskan 2 jam perjalanan naik becak, kami tiba juga di Lhok Nga. Bah, cantik kali pantainya, kawan! Pasirnya putih bersih, air laut yang jernih berhadapan dengan pohon pinus yang berjajar rapih, dan ada sederetan pondokan teduh di sepanjang pantai. Saya dan Bee ga pake lama-lama langsung lari ke laut.





Puas main-main di pantai, foto-foto dan menunggu Si Bang Ade sholat di tengah pantai, kami pun siap-siap untuk menuju ke pelabuhan Ulee Lheue (baca: Ulele). Sebelum ke Ulee Lheue, kami kembali ke pusat kota dulu untuk beli beberapa cemilan, oleh-oleh dan kopi Sanger sachet. Hehehe sepertinya sekali coba kami langsung ketagihan kopi Sanger.

Sesampainya di Ulee Lheue kami langsung mengucapkan salam perpisahan sama Bang Ade, si abang becak yang baik hati, dan bergegas beli tiket PP kapal cepat ke Pulau Weh (Sabang). Sekedar informasi, harga tiket kapal cepat untuk sekali jalan 75 ribu, tapi kalau beli langsung PP totalnya cuma 110 ribu. Di Ulee Lheue kami janjian ketemuan sama Dea. Ternyata waktu kami memutuskan pergi ke Aceh dan Weh, Dea juga berencana pergi ke sana untuk liburan selama 2 minggu.

Yeaayy.. finally the time has come for us to cross the sea to Pulau Weh, Sabang!

Dari Ulee Lheue ke pelabuhan Balohan (salah satu pelabuhan di Sabang) dengan kapal cepat kira-kira waktu tempuhnya 45 menit. Rasanya baru juga merem sebentar di kapal udah nyampe. Kapal cepatnya cukup nyaman, dingin dan spacious. Mungkin karena lagi ga ramai dan bulan puasa juga, jadi ga terlalu rame. Sampe di Balohan, kami dijemput supir yang udah kami booking dan langsung diantar menuju Iboih (baca: Iboh). Dari dermaga Iboih, kami naik perahu kecil menuju penginapan kami yang letaknya di tepi pantai: Iboih Inn.

Sisa hari kami hari itu kami habiskan dengan snorkeling di depan penginapan kami, bersantai sambil nyemil Lemang dan menikmati pemandangan sunset di Pantai Iboih. It feels like heaven...

(senja di Iboih...)


-Gie-





Monday, November 05, 2012

First time to Aceh-Weh (Day 1)

Okeh, kali ini saya kembali bingung tentang bagaimana menceritakan pengalaman sendiri. Bingung karena terlalu banyak yang mau diceritain, bingung karena kejadian yang dialami selama trip terakhir semuanya menarik, pokoke bingung-bingung ga penting gitu deh. Hakhakhak...

Jadi, seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, sekitar 3 bulan lalu, tepat pada saat memasuki bulan Ramadhan, saya pergi ngunjungin kampung halaman Ibu saya. Kurang lebih selama 5 hari 4 malam saya bersama Bee pergi ke Ujung Barat Indonesia, Banda Aceh dan Pulau Weh (Sabang). By the way, Ibu saya sebenarnya keturunan Jawa, tapi karena Kakek saya jaman dulu bertugas di Aceh, jadilah Ibu saya lahir dan tumbuh selama beberapa tahun awal hidupnya di kota Banda Aceh. Sementara itu, Kakek saya adalah Kepala Jawatan Listrik dan Gas (sebelum berubah nama jadi PLN) yang pertama di Aceh dan Sumatra Utara *sombooong* *ya terooosss??*.

Back to the track, saya dan Bee menghabiskan hari pertama dan kedua di Banda Aceh dengan berkeliling kota naik Becak. Becak di Aceh beda sama apa yang biasa kita sebut becak di Jakarta, Bekasi dan sekitarnya. Di sana becaknya bukan becak yang harus digenjot sama si Abang, tapi becak motor. Jadi lebih cepet dan nyaman juga. Ongkos nyewa becak yang kami keluarkan untuk 2 hari itu sekitar 150 ribu rupiah, 100 ribu untuk hari pertama (dari jam 1 siang sampe jam 8 malam) dan 50 ribu untuk hari kedua (dari jam 11 siang sampe jam 3.30 sore). Lumayan kan?

Hari pertama di sana kami cukup memaksimalkan keadaan, karena waktu itu hari terakhir sebelum masuk bulan Ramadhan. Begitu kami tiba di bandara Sultan Iskandar Muda kami langsung naik bus Damri menuju ke pusat kota. Jalanan di Banda Aceh sudah bisa ditebak tidak seramai di Jakarta. Apalagi waktu itu kami pergi hari Jumat, yang ternyata banyak orang tidak berkegiatan apa-apa alias libur di hari itu. (Enak banget ya cyiiiinn tiap Jumat libur :p) Sampai di pusat kota kami bertemu dengan Masjid Raya Baiturrahman. Subhanallah cantik dan megah banget bangunannya. Sayang kami ga bisa masuk karena setiap wanita yang mau masuk ke sana WAJIB pakai rok panjang, ga boleh pakai baju ketat dan harus berkerudung.

Karena ga berjodoh untuk liat dalemnya Masjid Raya Baiturrahman, jadilah kami langsung menuju hotel yang ga jauh dari situ untuk check-in dan istirahat sejenak. Setelahnya petualangan kami dengan si abang Becak sewaan pun dimulai. Tempat pertama yang kami singgahi adalah.......tempat makan! Hahaha. Karena uda kelaperan jadi kami memutuskan makan dulu. Si abang bawa kami ke Dapukupi. Katanya sih tempat ini ngehits banget di Banda. Di sana kami coba Mie Acehnya dan minum Kopi Sanger khas Aceh. Aceh emang terkenal dengan banyaknya warung kupi-warung kupi di pinggir jalan. Ibaratnya kalau ga ngupi ga gaul, man! Dan menurut penilaian kami makanan dan kopi Sanger di Dapukupi enaaaaakk banget dan ga menguras kantong alias murah. Mie Aceh kepiting (1 kepiting full) 25 ribu saja sodara-sodaraaaa... Must try item in Aceh!

Selesai makan, saya langsung request sama si Abang buat bawa kami ke komplek perumahan PLN. Saya penasaran sama rumah masa kecil ibu saya. Dan inilah saya pasang pose di samping bekas rumah tinggal Ibu saya dulu:




Di seberang bekas rumah Ibu saya  ada Taman Putroe Phang. Ga mau rugi dong yaaa mumpung masih ada waktu jadilah kami mampir masuk ke dalam dan liat-liat. Usut punya usut ternyata taman itu terkenal sebagai 'tempat pacaran' anak muda di sana. Naah.. Makanya sering banget ada polisi syariah yang menyatroni taman itu. Pas banget waktu saya keluar dari taman, ada segerombolan polisi syariah dateng. Si Abang langsung buru-buru nyuruh kami pake kerudungan kami dan ngajak cabut dari situ.

Oia, kalau ada yang berminat berlibur ke Aceh dan sekitarnya saya sangat menyarankan untuk berpakaian sopan dan (khusus wanita) mendingan bawa syal/kerudungan gitu deh buat nutupin pala. Yah.. itung-itung ikut menghargai adat dan budaya di sana, daripada jadi tontonan orang-orang karena mengumbar aurat. Ya kaan? :)

Puas berkunjung ke rumah masa kecil Ibu dan Putroe Phang, kami melanjutkan perjalanan buat ngeliat bekas kapal yang kebawa Tsunami sampai ke tengah kota. Begitu ngelihat "PLTD Apung 1"di tengah perumahan penduduk, saya baru sadar betapa dahsyatnya Tsunami yang menghantam Aceh beberapa tahun lalu. Gilaaaaa kapal segede gaban dan seberat dosa gitu bisa kebawa dari laut sampe ke tengah-tengah pemukiman penduduk!!


Hari itu kami juga ngunjungin satu lokasi lainnya, "Kapal di Atas Rumah Lampulo". Di situ ada kapal nelayan yang nyangsang di atas rumah orang. Bikin ngelus dada ngeliatnya, karena jadi kebayang banget suasana waktu kejadian Tsunami dulu. :(



Di sisa hari pertama, kami juga pergi ke tugu Aceh Thanks The World dan mejeng depan Museum Tsunami. Cuma mejeng doang karena keburu tutup museumnya gara-gara udah kesorean. -_-"

Anyhow, we had so much fun at day 1 and so excited for day 2! Cerita hari keduanya akan saya posting sesegera mungkin. Mohon ditunggu dan sabar ya para pembaca yang budiman. (Macam banyak aje pembacanya). Hehehe.
('▿^)♉


-Gie-


Tuesday, July 17, 2012

I just can't wait!

For the past few days, my colleagues and I were extremely busy since we have to move to our new premises. We have to pack lots of stuffs, documents, bantex, folders, etc. Boxes were everywhere. Then we have to unpack and put them in order at the new place. It was tiring yet exciting. Our new office is way bigger than the old one. We get new (bigger) desk, chair and computer screen. We loooooooveeeeee it! :-p

After those hecticness I had, I just can't wait to go for some relaxing days at the beach. Yup, this weekend I am going to have another trip for 5 days. This time I choose to go to my mom's hometown. I am so excited to see the place where my mom was born. And of course not only to see my mom's hometown, I am also really really excited to do deep dive there. Yeay!!

This trip is just what I need for now. So, I can't wait any longer. *grin*




Wednesday, June 13, 2012

Para.. para..

I am acrophobic. And I don't like being acrophobic, but that is what I am.

Acrophobic berarti orang yang takut ketinggian, dan saya salah satunya. Saya ga bisa ingat sejak kapan saya takut ketinggian. Yang saya ingat, saya selalu deg-degan dan sedikit gemetar tiap kali harus menyeberang dengan jembatan penyeberangan (terutama jembatan penyeberangan di gerbatama UI, yang juga menyeberangi rel kereta. Tinggi banget!!). Saya selalu ingin nutup mata tiap kali naik lift yang kacanya transparan. Saya ga berani liat ke bawah tiap kali naik eskalator atau jalan-jalan di mall, karena kalau saya lakukan perut saya rasanya langsung mual. Pernah satu kali saya pergi ke Anyer dan saya naik ke puncak sebuah mercusuar bersama beberapa teman, saya hanya berani duduk merapat ke tembok sambil berpegang erat-erat ke pagar penyangga dengan wajah pucat sementara teman-teman saya asyik bergaya dan berfoto. Saya juga pernah dipaksa naik wahana Kora-Kora di Dufan oleh beberapa teman, dan saya hanya bisa menutup mata, merasakan jantung saya hampir copot sampai akhirnya tangisan saya pecah di atas wahana itu.Yah, itulah saya.

Sering kali saya dapat ucapan dari teman-teman saya seperti, "Ga asik lo! Gitu aja takut.Cupu!" atau "Gaya tengil macam jagoan tapi ga berani nyoba yang tinggi-tinggi". Puas deh sepanjang hidup saya denger omongan kayak gitu. Saya cuma bisa cengar-cengir kecut tiap kali denger semua ucapan teman-teman saya tadi. Ga masalah mereka mau bilang apa, selain sama hiu, saya emang takut juga sama yang namanya ketinggian, jadi mau gimana lagi.

Tapi biarpun takut tinggi, saya ga takut naik pesawat. Karena mungkin saya merasa aman berada di dalamnya. Saya jadi ingat pengalaman pertama saya naik pesawat, antara excited dan takut setengah mati. Saya tidak akan pernah lupa penerbangan pertama saya ke Bali dengan 3 orang teman. Waktu itu saya dapat tempat duduk terpisah dari 3 teman saya tersebut, tapi karena teman saya tahu persis kalau itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat dan saya sebenarnya penakut, jadilah saya bertukar posisi dengan salah seorang teman. God bless her :-p. Saat take off dan landing adalah saat-saat yang paling saya ga suka. Lagi-lagi saya menutup mata plus menggenggam erat-erat bangku pesawat (dan tangan teman saya) ketika itu. Walaupun diketawain sama teman saya, saya udah ga mau ambil pusing dan tetep melanjutkan ritual tersebut. Sampai sekarang pun, tiap kali take off dan landing dengan pesawat, saya lebih suka menutup mata saya, mengatur napas sedemikian rupa dan berpegang pada sesuatu sambil komat-kamit dalam hati: All is well... All is well... 

Saya ga tau apakah acrophobia saya ini termasuk dalam ukuran parah, lumayan atau biasa-biasa saja. Tapi saya sudah membulatkan tekad untuk pelan-pelan mengatasinya. Beberapa waktu lalu tercetuslah sebuah ide dari teman saya untuk mencoba tandem paragliding (paralayang) di Puncak. Di satu sisi saya tertarik banget untuk nyoba, saya selalu senang dan penasaran dengan hal-hal baru. Tapi di sisi lain, saya ga berani membayangkan betapa tingginya nanti saya akan melayang, di alam terbuka, tanpa pelindung apa-apa. Bayangan seperti parasut yang ga akan terbuka atau tiba-tiba saya jatuh dari ketinggian melintas di kepala saya. I'm terrified, but I have to face it. I want to experience it so bad. Maka, saya pun mengiyakan ajakan itu.


Dan jadilah saya, tepat tanggal 19 Mei 2012 lalu, terbang pertama kali dengan paralayang dan berhasil melawan ketakutan-ketakutan saya. Saya mungkin lebay, tapi saya bangga bukan main. Hehehehehe. Bukan hal gampang bagi saya untuk yakin terus berlari sampai parasut membawa saya terbang melayang di ketinggian berpuluh-puluh meter dari atas tanah tempat saya berpijak sebelumnya. Saya harus melihat 2 teman saya lebih dulu melaluinya dan mendengar komentar mereka sebelum saya memutuskan untuk ikut mencoba. Tangan saya harus terus mengeluarkan keringat dingin tiap kali saya berdoa dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja dan saya tidak akan jatuh. Kaki saya harus gemetar terus-terusan sebelum angin akhirnya datang dan saya diminta berlari sekuat tenaga sampai saya melayang. Bahkan pada saat berlari saya harus menggigit bibir saya karena ketegangan yang saya rasakan.

Pada akhirnya, ketika saya sudah terbang tinggi, saya merasa perut saya bergejolak. Bukan karena mual, tapi lebih karena senang. Senang merasakan angin sejuk yang menerpa wajah saya. Senang karena saya bisa merasa aman melihat pemandangan di bawah saya. Senang karena ternyata bayangan-bayangan seram dalam kepala saya sebelumnya ga terjadi. Rasanya campur aduk, walaupun masih tersisip sedikit rasa takut jauh di dalam pikiran dan hati saya. The feeling was amazing. Such a great sensation I can say! Sensasi yang serupa tapi tak sama yang saya rasakan tiap kali saya menyelam. Aaaahh saya suka sensasi itu. Sensasi itu membantu saya bernapas lega ketika tiba waktunya untuk saya perlahan terbang merendah dan mendarat kembali di tanah. I nailed it!

Pengalaman saya kali ini pastinya ga akan pernah saya lupain. Benar-benar pengalaman pertama saya 'terbang'. Tanpa pesawat. Dari pengalaman ini saya belajar kalau ketakutan itu bisa diatasi pelan-pelan. Walaupun ga sepenuhnya hilang, tapi bisa dikurangi dan saya jadi lebih percaya dengan diri sendiri. Untuk Bee, -i-, Dea dan Chirra, makasih untuk perjalanan dan pengalaman yang menyenangkan kemarin.




Ciao!

-Gie-



Wednesday, May 23, 2012

Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 3)

Tulamben – Night Dive

Selesai dive ketiga, saya break cukup lama. Karena saya hanya tinggal menunggu untuk night dive bareng si Belih. Sayangnya Bee, belum bisa ikut untuk night dive. Sebelum night dive, Belih Asa membriefing saya tentang cara memakai senter dan kode-kode yang bisa digunakan dengan senter selama penyelaman nanti.

Sekitar jam setengah tujuh kami mulai penyelaman terakhir hari itu. Ini pengalaman pertama saya melakukan night dive. Rasanya beda banget sama nyelem waktu ada matahari. Sensasinya luar biasa. Antara takut, excited, deg-degan kalo ketemu hiu atau nabrak apa gitu. Dan bener aja, beberapa kali karena terlalu asik liat-liat atau bikin foto, saya hampir nabrak/kejedot dinding-dinding kapal. Untung si Belih selalu aware sama keadaan dan ngawasin saya dengan cekatan. Saya takut banget sebenernya selama night dive, dan ketakutan terbesar saya adalah kalau tiba-tiba saya lagi meleng dan kemudian ngarahin senter ke depan…… jeng jeng jeng ada muka hiu di hadapan saya. :-s  Hiu adalah hewan yang paling menyeramkan buat saya. Sumpah, saya takut hiu!!

Dan ketakutan saya itu nyaris terjadi. Beberapa saat sebelum penyelaman selesai, di kejauhan saya ngeliat ikan yang cukup besar dan saya pikir: itu pasti hiu. Biarpun ciut, saya sok berani memfoto ikan itu, sayangnya saya hanya bisa memfoto satu kali, karena setelahnya kamera saya mati total. Si Belih yang ga tau kalo saya lagi ketakutan malah ngedeketin makhluk itu, agak ragu saya ikutin deh ke mana si Belih mengarah daripada saya ditinggal sendirian. Untungnyaaaa ternyata itu bukan hiu, fyuuuhhh… Ternyata oh ternyata itu hanyalah si bumphead yang saya kira hiu. Hohoho,, ga jadi kencing di celana deh saya.


Selesai menyelam seharian hari itu, saya ga bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Saya terlalu senang dengan apa yang saya alami. Walaupun saya sedikit sakit kepala setelahnya, karena kemampuan mengontrol buoyancy saya yang masih cemen jadi sering naik-turun selama diving, tapi perasaan senang dan terpuaskan saya menghilangkan segala kesakitan itu dengan mudahnya. *Tsaaaaaahh….* Yak, I’m so happy that my first trip went really well. And I can’t wait for my next trip. ASAP!


(Ini loooh si bumphead yang saya kira hiu. 
Sayang fotonya kurang jelas karena kameranya udah mau die)

Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 2)


Tulamben – Day Dive

Hari kedua kami di Bali adalah hari ujian diving untuk Bee. Untuk bisa dapat diving license PADI, Bee setidaknya harus 4 kali menyelam dan mengikuti ujian tertulis. Bulan Maret lalu, Bee sudah ikut ujian tertulisnya dan sudah menyelesaikan 1 kali dive di Pantai Sanur. Jadi, masih ada 3 dive lagi yang harus diselesaikan. Sementara saya, ga mungkin dong saya nungguin Bee doang, dengan bengang-bengong di pinggir pantai. Hehehe. Jadilah saya ambil 3 kali day dives dan 1 night dive dari dive operator yang sama dengan tempat Bee ambil license, yaitu Bali MarineSports. (untuk info tambahan aja: biaya untuk 3 day dives dan 1 night dive kurang lebih 1,3 juta di sana, sudah termasuk sewa alat dan senter untuk night dive). Dan hari itu, kami akan menyelam di Tulamben, Bali Timur. One of the best dive spot in the world! Woooohoooo…. :D

Perjalanan untuk mencapai Tulamben dari pusat kota kurang lebih 2,5 – 3 jam dengan mobil. Kami tiba di Tulamben sekitar jam 11 siang. Begitu sampai, ga pake haha hihi huhu kami langsung bersiap-siap. Karena Bee harus ujian, jadi saya berpisah dengan Bee. Bee menyelam dengan instrukturnya dan saya dengan Belih Asa, buddy (guide) saya hari itu. Belih Asa membawa saya langsung ke spot wreck kapal USS Liberty. Dan……. Gilaaaaaaa…… buat saya yang pertama kali diving di luar Pulau Jawa, melihat pemandangan itu rasanya benar-benar luar biasa. Kapal yang luar biasa besar, tenggelam, dan sekarang bangkai kapalnya dipenuhi karang-karang yang cantik, ikan-ikan yang berlalu lalang dan makhluk-makhluk laut indah lainnya. Saya takjub.


Saat dive pertama,saya masih kagok untuk mengambil foto di bawah laut. Saya terlalu takjub dengan apa yang saya lihat. Jadilah Belih Asa yang baik hati, mengambil alih kamera saya dan beberapa kali mengajari saya mengambil gambar dengan angle yang bagus. Saking baiknya, malahan si Belih beberapa kali memfoto saya yang sedang diving sambil bergaya. Hehehe. Dan waktu kami berpapasan dengan serombongan school fish, si Belih membawa saya ke dalam pusaran ikan-ikan itu dan mengambil foto saya dengan mereka. Yak, si Belih tau betul kalo fun diver pemula seperti saya suka narsis. *nyengir kuda sambil berpose peace*

Ga kerasa untuk dive pertama, si Belih sukses membawa saya berkeliling selama 1 jam dan sampai di kedalaman 27 meter. Hiiiiii… waktu saya tahu itu, saya sampe merinding karena ga nyangka saya bisa sedalam itu. Selesai dive pertama, kami istirahat makan siang sebelum melanjutkan ke dive berikutnya. Selama makan siang saya mengobrol banyak dengan Belih Asa. Dari Belih Asa, saya dapat beberapa tips untuk mengambil gambar di bawah air. Lumayanlah buat jadi bekal saya pas dive selanjutnya.

Waktu dive kedua, Belih Asa masih membawa saya ke spot yang sama. Tapi kali ini dia membawa saya menelusuri ke dalam wreck kapal. Seru-seru deg-degan gimana gitu rasanya waktu saya masuk-masuk ke dalam bangkai kapalnya. Saya harus ekstra hati-hati dan menjaga buoyancy saya supaya ga kepentok atap atau kebaret tiang kapal. Di penyelaman kedua ini, saya ketemu lebih banyak makhluk. Penyu, blue spotted stingray, nudibranch, lion fish, dwarf hawkfish, cleaner shrimp dan serentetan makhluk laut lainnya yang bodohnya saya ga tau namanya. Saya puas banget jeprat-jepret objek laut sepanjang penyelaman.


Puas dengan penyelaman kedua, kami istirahat lagi. Waktu saya selesai penyelaman kedua ternyata Bee sudah selesai dengan ujiannya, dan dia lulus. 3 kali dive sukses dilahap Bee. I’m proud of you, girl! Dan sepertinya karena Bee juga udah mulai ketagihan, akhirnya dia memutuskan untuk ikut saya dan Belih Asa di penyelaman ketiga kami. Jadilah kami menyelam bertiga menuju spot coral garden. Dari namanya aja udah jelas banget kalo di spot yang satu ini pasti banyak karang-karang berwarna warni dan ikan-ikan kecil. Di sini kami bertemu dengan clown fish a.k.a nemo yang lagi asik main-main di anemon. Ada juga moray eel, nudibranch lagi dengan warnanya yang nyentrik, tube worm, starfish daaaaann puffer fish alias ikan buntal.

 (ini nih si nyentrik: Nudibranch)


Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 1)

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman diving pertama saya setelah memegang lisensi A1 CMAS untuk menyelam. Ceritanya mungkin akan agak panjang, tapi semoga tidak membosankan. Dan supaya ga bosan bacanya, entrynya saya bagi jadi 3 bagian. :)

Pertengahan April lalu, kira-kira 2 minggu setelah saya beli underwater housing untuk kamera saya, saya dan Bee pergi ke Bali (lagi!). Tapi, kali ini kami bertekad hanya akan menghabiskan waktu di laut, tidak di pusat kota.

Sebenarnya saya hanya akan menemani Bee yang akan ikut ujian menyelam untuk mendapatkan lisensi PADI. Januari lalu, seharusnya Bee bersama dengan saya mengikuti ujian d, tapi karena faktor kesehatan dia ga jadi ikut ujian itu dan akhirnya dia mutusin untuk ambil license-nya di Bali.

Padang Bai - Snorkeling

Hari pertama kami pergi ke Padang Bai untuk snorkeling. Sekalian juga, saya mau nge-test si housing baru. Awalnya agak deg-degan juga sih, takut housingnya leak/bocor. But thank God, it didn’t happen. Di Padang Bai, kami  nyewa perahu jukung selama 2 jam dengan biaya sewa 250 ribu. Mungkin bisa lebih murah dari itu, tapi saya udah males nawar dan pengen cepet-cepet nyemplung aja. Dengan nyewa jukung selama 2 jam, 1 jam pertama kami snorkeling di Tanjung Jepun dan 1 jam berikutnya di Blue Lagoon.  

Saya sedikit menyesal karena tidak memutuskan untuk diving di Padang Bai. Karena untuk spot Tanjung Jepun, saya kurang menikmati snorkelingnya. Berbeda mungkin kalau saya diving di sana, pasti lebih banyak yang bisa dinikmati dan dilihat. Untungnya begitu kami pindah ke spot Blue Lagoon, kami benar-benar terpuaskan. Blue Lagoon memang spot yang sangat sangat sangat bagus untuk snorkeling. Banyak banget karang-karang dan ikan-ikan yang berseliweran di sana. Perairannya juga sangat jernih dan bersih. Klik, klik, klik…. Ga ragu-ragu saya ambil beberapa foto di sana. Cantik!

 (foto favorit: lalu lintas bawah laut)

Wednesday, January 04, 2012

Cerita akhir dan awal tahun

Tahun baru kemarin saya punya cerita yang sangat luar biasa. Saya menyebutnya yang tak terlupakan. Unforgettable! Bisa jadi konyol. Pengen nangis juga ketawa ngakak tiap kali ingat apa yang saya alami kemarin. It was just remarkable!

Jadi, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pergantian tahun akan saya habiskan di Pulau Pramuka dengan rombongan dari klub diving Hammerhead untuk ujian sertifikasi. Dengan berbekal semangat '45, sekitar jam 6.30 pagi berkumpulah kami, rombongan yang kurang lebih terdiri dari 15 orang (saya, Robin, Bee, *Wawan/Buntal/Raras beserta para instruktur dan peserta lainnya), di pelabuhan Muara Angke. Ini pertama kalinya saya merasakan berangkat dari Muara Angke (biasanya dari Marina cyiiiinn..). Pertama kalinya juga bagi Robin pergi ke kepulauan seribu.

Seperti sudah diduga, pagi itu Muara Angke rameeeeeeeee bangeeeeeettt. Macam musim mudik, ribuan orang berjubel di sana. Disambut dengan cuaca gerimis-gerimis mengundang, bikin jalanan jadi becek-becek banjir. Ditambah bau amis makhluk laut bercampur lumpur dan aroma tak sedap dari perairan yang kotor, inilah awal dari 'kesenangan' kami.

(begini nih suasana Muara Angke,, Yucks!)

Kalau mood saya lagi acak kadut, mungkin saat itu juga saya bakalan milih pulang dan pergi lain waktu aja. Tapi, karena keinginan untuk nyebur ke laut udah menggebu-gebu, saya memilih untuk tetap santai dan menikmati setiap momen hari itu. Sayangnya, hari itu malah jadi semakin parah. Saking ramenya, semua orang dalam sekejap berubah jadi bar-bar. Setiap ada kapal datang, semua langsung berkerubung dan rebutan dulu-duluan naik ke kapal. Karena rombongan kami yang banyak, barang bawaan yang juga ga sedikit dan berat (karena bawa peralatan selam),  kami ga bisa segesit orang-orang lain. Alhasil, jadilah kami terdampar selama kurang lebih 10 jam di Muara Angke, saudara-saudara!!!!

Ya, selama itu. Bisa dibayangkan, sudah berapa kali kami ganti gaya di sana. Dari mulai berdiri, jongkok, foto-foto, duduk, berdiri lagi, tidur, foto-foto lagi, sampe berdiri sambil tidur, kami lakukan di sana. Dari mulai basah kehujanan, kering, basah keringetan karena terjemur matahari sampe akhirnya badan kami terpanggang well done seluruhnya dan siap disantap. Gilaaaaaaaaaa........ Bahkan bau Muara Angke pun sepertinya sudah menyatu dengan bau badan kami.

Baru sekitar jam 4 sore kami dapat kapal menuju Pramuka. Kapal Dolphin namanya. Itupun masih berebutan dengan sisa-sisa manusia amis lainnya yang terdampar di Angke. Masuk kapal, saya, Robin, Bee dan Wawan dapat duduk di sebelah abege-abege alay yang ga jelas banget mau ngapain sama hidupnya. Kenapa saya bilang gitu? Ini alasannya (percakapan yang saya dan Wawan dengar di antara mereka) :

Alay 1 : "Eh ini kapal ke mana sih?"
Alay 2 : "Iya ke pulau apa nih kita?"
Alay 3 : "Gue ga peduli deh ke pulau apa aja. Yang penting gue taun baruan di Pulau"

Saya dan Wawan : *Waaakkwaaaoooo.... Eeeeeaaaaaa... Teeerooorreeeett toooreeettt....  -_____-"*

Denger yang kyak gitu rasanya pengen saya jitak-jitakin satu-satu kepala bocah-bocah itu. Well, saat itu saya pikir "yaudalah yaaa, cuma 3 jam ini di perjalanan sama mereka. Bodo amat deh." Dan ternyata saya salah besar. Sepertinya kata-kata expect the unexpected tepat banget untuk menggambarkan hari itu. Baru satu setengah jam perjalanan, kapalnya mogok. Dan kami pun terombang-ambing di tengah laut.

(mulai stress selama menunggu dan di atas kapal)

Singkat cerita, setelah beberapa lama terombang-ambing, datanglah bala bantuan kapal-kapal kecil buat ngangkut dan ngurangin kapasitas penumpang di Dolphin. Kapal kami akhirnya menepi di Pulau Untung Jawa selama sekitar 45 menit untuk diperbaiki. Selama kapal diperbaiki, saya dan rombongan bisa bernapas sedikit lebih lega. Bisa mengisi perut sambil duduk-duduk menghirup udara laut dari pinggir pantai, sebelum melanjutkan perjalanan.

Dan satu jam sebelum pergantian tahun, saya dan rombongan akhirnyaaaaaa tiba juga di tempat tujuan. Pengen langsung sujud syukur cium tanah rasanya bisa sampe juga dengan selamat. Bayangin aja, perjalanan yang kami tempuh hari itu sebanding dengan perjalanan Jakarta-Amsterdam dengan pesawat terbang. Perasaan saya udah campur aduk sama seperti isi perut dan otak saya yang teraduk-aduk dan berceceran selama perjalanan di laut dengan ombak lumayan besar. Saya dan rombongan pun langsung menuju penginapan, makan malam, mandi dan tepat jam 12 saling mengucapkan selamat tahun baru, sebelum akhirnya pergi tidur.

Besoknya, hari pertama di tahun 2012, jam 6 kurang kami sudah dibangunkan untuk bersiap-siap pergi menyelam. Yeeeaayyy!! Karena waktu banyak terbuang di hari sebelumnya, jadilah hari itu kami harus bergerak lebih cepat. Untuk ujian sertifikasi minimal kami harus dapat 3 kali menyelam. Sedihnya hari itu Bee jatuh sakit. Fisiknya drop karena perjalanan yang kami alami hari sebelumya. Bee terpaksa harus istirahat di penginapan dan ikut ujian pada trip selanjutnya. (Tetap semangat, Buns! :-) ) 

Setengah hari pertama di tahun baru saya habiskan kembali di tengah laut untuk ujian menyelam. Tiga kali menyelam lumayan membayar apa yang sudah saya alami hari sebelumnya. Saya senang! Ujian saya berjalan lancar, tanpa ada gangguan berarti. Pencapaian pertama saya di tahun ini : Punya diving license! ^_^ *walaupun belum beneran dipegang barangnya* Puas juga akhirnya bisa ngelakuin dan ngedapetin yang saya udah lama mau. Hehehe.

Dan tepat jam 5 sore hari itu, kami kembali naik kapal menuju Muara Angke. Untungnya perjalanan pulang ga pake mogok-mogok segala. Walaupun pake rusuh juga pas naik kapal, tapi semuanya jauh lebih aman dibanding waktu berangkat. Perjalanan pulang pun hanya makan waktu 2,5 jam saja. Alhamdulillah. Masih ada aja yang bisa disyukuri, kan? Semoga aja kelancaran di awal tahun yang saya dapat, bisa terus bertahan jadi keberuntungan dan kelancaran untuk saya di sepanjang tahun dalam segala hal.


So, this is my story. What's yours?

-Gie-


Notes:
*Wawan/Buntal/Raras : sejenis makhluk jadi-jadian dari dalam laut, yang saya kenal lewat Bee. 
- Foto-foto lainnya mungkin menyusul nanti :)

Tuesday, September 06, 2011

Day 7-9 : Jelajah Roma

Petualangan kami dimulai di hari Sabtu, pagi-pagi sekali. Jam 5 pagi Erik dan Bee sudah menjemput saya dan Robin dari Arnhem untuk sama-sama berangkat ke bandara Weeze yang terletak di Jerman. Di sana, Erik akan memarkir mobilnya selama kami pergi ke Roma, Italia. Bagi kami berempat, ini adalah kali pertamanya kami menginjakkan kaki di tanah gladiator. Dan tentunya, kami semua sangat antusias!

Sekarang, dalam pikiran saya begitu banyak cerita yang ingin saya bagi di sini, tapi saya bingung harus memulai dari mana. Hehehe. Karena ada banyak tempat yang indah dan luar biasa di Roma yang kami kunjungi. Buat saya, Roma adalah kota yang sangat cantik. Sama seperti Paris, di setiap sudut di kota Roma, pasti selalu ada spot yang bagus dan indah untuk diabadikan. Tiap kali mata memandang, gedung-gedung tua nan megah selalu ada di sekeliling kami. Saya jatuh cinta seketika dengan kota tersebut.

Tapi sayangnya, walaupun kotanya sangat indah, saya tidak terlalu terkesan dengan manusia-manusianya. Keindahan kota Roma, tidak seiring sejalan dengan sebagian besar penduduknya yang menyebalkan dan tidak terlalu ramah. Ada beberapa orang yang kami temui memang sangat-sangat ramah, tapi kebanyakan di antaranya juga sangat-sangat menyebalkan dan berkelakuan buruk. *sigh* Anyhow, tidak bisa dipungkiri kalau selama di sana, saya dan Bee, seringkali "zina mata" setiap kali melihat manusia-manusia yang rupawan berjenis kelamin laki-laki dengan hidung mancung, sedikit brewokan, dan alis yang begitu rapi seperti habis dirapikan di salon. Hahaha. Kasep pisan euuuyyy!!

Beberapa tempat yang sempat kami kunjungi selama 3 hari kami berada di sana di antaranya adalah Colosseum, Trevi Fountain, Piazza Navona, Pantheon, Vatican dan masih banyak lagi. Kami membuat banyak foto dan video selama kami berada di Roma. Dan saya akan membagi beberapa foto tersebut di sini dan membiarkan foto-foto ini yang bercerita. :-)

(Saya dan Robin berfoto di dalam Colosseum yang megah. Arenanya para Gladiator!)
(Pantheon. Dengan kereta kuda di depannya, seperti dalam dongeng.)


(Kami berempat di depan Trevi Fountain. Kami ikut melempar koin ke dalam kolam dan ya semoga saja kami bisa kembali lagi ke sana suatu hari nanti. Amin.)
(Suasana di sekitar "Spain Stairs": Ramai!!)
(Masih di Spain Stairs, foto dari atas. Lautan manusia.)
(Di sebuah cafe, di pinggir jalan. Erik ordered a super tiny glass of espresso for 2 euro.)
(Mas-mas bule mejeng di depan St. Peter's Basilica yang terkenal di Vatican.)

(Salah satu penjaga di St. Peter's Basilica. Cute banget yaaa bajunya :-p. Konon katanya yang merancang baju itu adalah Michelangelo, tapi ada beberapa pihak yang masih meragukannya.)
(Mamma Mia! Italiana Pizza!)

Thursday, September 01, 2011

Day 5 : hari tenang..

Ga banyak yang bisa diceritakan tentang hari ini. Bisa jadi hari ini adalah hari yang paling tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Sekarang baru jam setengah 10 malem dan saya sudah rebahan di atas tempat tidur sambil menulis cerita tentang hari ini. Selayaknya orang Belanda, tadi siang saya dan Robin bersepeda muter-muter di sekitar Arnhem lagi. Membuat beberapa foto dan video untuk dikenang di masa tua nanti (tsaaaaahh...)

Saya kagum dengan apa yang bisa saya lihat selama saya di sini. Di tengah kota sekalipun, saya masih bisa bersepeda dengan aman dan mendapati hutan atau pun taman tempat orang bisa bersantai atau berolahraga. Hijau dan segar. Ga cuma itu, tapi ada banyak sungai atau danau yang bersih (ga penuh sampah dan bau seperti di Jakarta) di daerah perumahan yang ada. Cantik. Saya jadi semakin tidak ingin pulang. Di sini saya belum pernah mengalami sakit kepala, migrain, flu atau demam yang sering saya rasakan sebelumnya. Saya merasa benar-benar sehat. Mungkin karena udara yang bersih dan tidak banyak polusi. Dan tentunya di sini jarang banget saya ketemu sama yang namanya macet, jadi saya juga ga gampang stress. Hehehe.

Beruntung rasanya saya bisa melalui liburan kali ini. Benar-benar liburan, meluangkan waktu untuk diri saya menikmati hidup, tanpa harus dikejar-kejar pekerjaan dan tanggung jawab. It feels unreal, but I really love this moment. Aaaaahh saya benar-benar ga ingin ini cepat berakhir dan harus kembali ke dunia nyata. Sekarang yang harus saya lakukan adalah menikmati setiap detik yang saya punya di sini, supaya saya bisa me-refresh hati, pikiran dan fisik saya untuk kembali ke kenyataan nanti. Oiya, saya belum mengucapkan di sini : Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi semua yang merayakan! Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Mari kita memulai lagi dari awal, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. :-)

Salam dari Belanda,
Gie
 


Day 3 - 4 : Prettige suikerfeest! Happy Ied Mubarak!

DAY 3

Lebaraaaan dataaaang!!! Yak, walaupun di Indonesia banyak gunjang-ganjing tentang ketidakjelasan kapan Hari Raya Idul Fitri dirayakan, tapi di sini sudah ditetapkan kalau kami akan berlebaran hari Selasa, 30 Agustus 2011. Saya senang sekaligus sedih. Senang karena ini akan jadi pengalaman pertama saya berlebaran di negeri orang, tapi sedih juga karena saya tidak menjalankan Shalat Ied dan berkumpul dengan keluarga tercinta.

Tahun ini saya Shalat Ied di Masjid Al-Hikmah yang ada di Den Haag. Berbeda dengan di Jakarta yang biasanya Shalat Ied dimulai jam 7 pagi, kalau di sini Shalat mulai jam 10 pagi. Shalat berjalan cukup khidmat dan teratur. Jujur, saya sedikit kaget karena ternyata lumayan banyak umat muslim yang ikut menjalankan Shalat Ied di sini. Masjid yang tidak terlalu besar itu pun, jadi sedikit sesak karena banyak orang (sebagian besar orang Indonesia) datang dari berbagai kota di Belanda untuk sama-sama menjalani Shalat Ied.

Selesai Shalat, saya, Robin, Dain dan Dennis segera meluncur ke Wassenaar untuk acara Halal Bihalal bersama Kedutaan Besar Indonesia di Belanda. Kalau kata orang-orang Belanda sih daerah Wassenaar ini salah satu daerah tempat orang-orang kaya tinggal. Jadi, ga heran kalau rumah-rumah di sana jauh lebih besar dibanding rumah-rumah Belanda umumnya. Rumah tempat tinggal duta besar Indonesia untuk Belanda di sana cukup besar dan halamannya luas. Di halaman rumah, dibangun beberapa tenda-tenda makanan, minuman dan ada juga panggung kecil untuk pengisi acara hari itu. Makanan yang disajikan hari itu merupakan menu lengkap lebaran, ada ketupat, rendang, sambel goreng ati dan kawan-kawannya, dan semuanya enaaakk! Paling engga makanan-makanan itu bisa mengobati kesedihan saya dan Dain karena ga bisa merayakan Idul Fitri bareng keluarga.

(Makan-makan ketupat di rumah Dubes Indonesia untuk Belanda. Lekker!)

Dari acara halal bihalal kami kembali ke Amsterdam lagi. Karena saya masih mau beli beberapa souvenir/oleh-oleh, dan kami juga sudah janjian akan ketemu Bee dan Erik di sana. Buat saya, Amsterdam di siang hari lebih menarik dibanding pada saat malam. Karena lebih banyak yang bisa dilihat dan toko-toko juga lebih banyak yang buka. Tapi sayang, karena waktu yang terbatas akhirnya kami memutuskan untuk menikmati waktu kami di sebuah cafe dekat De Dam sebelum belanja souvenir dan pulang.


DAY 4

Karena satu dan lain hal, saya dan Robin memutuskan untuk menghabiskan satu malam lagi menginap di tempat Dain. Jadi, hari keempat saya di sini, saya habiskan untuk jalan-jalan di Leiden. Hari ini saya mencoba makanan baru, "Vlaai" dan "Kibbling". Vlaai lebih seperti kue/pai untuk dessert dan Kibbling itu sejenis ikan yang digoreng dan dimakan dengan saus seperti mayonaise. Lekker zeg!

Walaupun belum puas menelusuri jalan-jalan di Leiden, tapi saya dan Robin sudah harus kembali ke Arnhem supaya bisa ikut makan malam keluarga. Kami berpisah dengan Dain di stasiun dan rencananya akan bertemu lagi kalau masih memungkinkan minggu depan. Semoga saja.



Tuesday, August 30, 2011

Day 2: Last day fasting..


Tepat jam setengah 3 pagi tadi saya terbangun. Kalo berdasarkan info dari Dain, waktu imsak di Belanda kira-kira sekitar jam setengah 4 pagi. Dan di saat summer kyak sekarang ini, puasa bisa sampai jam 10 malam karena matahari bersinar lebih lama dan baru akan tenggelam sekitar jam 9-10 malam. Tapi, mengikuti saran Dain dan saya di sini sebagai musafir (kurang ngerti juga sih apakah saya termasuk hitungan musafir atau engga, hehe), jadi saya hanya akan berpuasa sampai jam 6 sore seperti biasanya di Indonesia.

Sahur terakhir di bulan Ramadhan tahun ini, saya ditemani Robin. Begitu bangun, Robin langsung sibuk menyiapkan Indomie, sementara saya cuma tidur-tiduran di kasur menunggu makanan siap. Hohoho. Karena emang ga terlalu semangat untuk sahur, jadi buat saya ga masalah cuma makan Indomie aja, selama makannya ditemenin sang kekasih hati (Hooeeks..).

Singkat cerita selese sahur, kami kembali tidur. Sebenernya hari ini kami belum punya rencana selain mau nginep di tempat Dain di Leiden. Mau nginep di sana juga karena hari Selasanya kami akan pergi sama-sama ke Den Haag untuk Sholat Ied dan Halal Bihalal (baca: makan ketupat dkk gratis) di rumah Dubes Indonesia untuk Belanda. Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk bersepeda di sekitar Rijkerswoerd (tempat tinggal Robin) dan sorenya pergi ke rumah Oma Robin yang lainnya.

Untuk buka puasa, lagi-lagi si Mas Gantengku yang baik hati, yang nyiapin makanannya. Dan malam ini dia masak Spaghetti (yum!). Selesai makan, saya dan si ganteng langsung siap-siap meluncur menuju Leiden naik kereta. Dua jam di perjalanan, sampai di Leiden Centraal Station, kami dijemput sama Dain dan Dennis.
Supeeeerr kangen ngobrol ngalor ngidul sama si Dain. Sampai di tempat Dain, kami makan pastel (buatan Dain, dan saya dipaksa untuk bilang di sini biar semua orang baca dan tau kalo pastelnya enak banget!!! "Padahal ga usah dipaksa juga, menurut gue pastelnya enak, In!"). Then, sekitar jam 11 kami berempat (saya, Robin, Dain dan Dennis) jalan-jalan ke Amsterdam tanpa direncanakan sebelumnya.

Amsterdam, seru! Saya selalu suka setiap kali pergi ke sana. Ramai dan banyak orang dari berbagai penjuru dunia yang bisa saya temui di sana. Mungkin sama seperti Paris dan Jakarta, Amsterdam juga salah satu kota di dunia yang ga pernah benar-benar tidur. Dan malam-malam gini, apalagi yang dilihat di A'dam kalau bukan Red Light District, hehehe. Jadilah kami berempat menjelajahi jalan-jalan di Red Light District dan melihat-lihat 'pemandangan'. Dan malampun kami tutup dengan menikmati cheeseburger di McDonald Amsterdam centrum, sebelum akhirnya kembali ke Leiden untuk beristirahat.

(Amsterdam at night, with Robin and Dennis)




Sunday, August 28, 2011

Day 1 : We are soooo excited!


Pagi ini akhirnya saya kembali lagi ke negeri keju dan kincir angin, Belanda. Untungnya, saya tidak melalui perjalanan selama +/- 16 jam di pesawat sendirian, tapi bersama sahabat saya, Bee. Ini kali ketiganya saya berkunjung ke Belanda, tapi pertama kalinya buat Bee. Dan sampai sekarang pun bagi saya selalu menyenangkan bisa kembali lagi ke sini. And of courselah for Bee also, with her first time visiting The Netherlands. Singkat kata: we're really excited about this trip!

Kami memang sengaja memilih penerbangan yang sama, memilih tanggal datang dan pulang yang sama juga. Tapi selama di sini, kami akan tinggal di tempat terpisah. Saya stay di Arnhem, tempat Robin dan keluarganya tinggal. Sementara Bee akan tinggal di Veneendal, tempat Erik dan keluarganya tinggal. Dan masing-masing dari kami akan punya acara sendiri-sendiri, walaupun akan ada beberapa hari dalam jadwal kami untuk pergi bareng-bareng.

Tadi pagi, kami mendarat sekitar pukul 5.35, which is 20 menit lebih cepat dari yang dijadwalkan. Seumur-umur, baru kali ini saya naik pesawat yang sampai di tempat tujuan lebih cepat dari jadwal seharusnya. Biasanya pesawat selalu terlambat dari jadwal alias delayed, tapi bukan sulap bukan sihir, sedikit aneh tapi nyata,  ini malah kecepetan. Hehehe.

Setibanya di Schiphol, saya dijemput Robin dan Pa' Ronald (Robin's dad), sementara Erik dan bapaknya juga sudah siap menjemput Bee. Cuma tinggal satu orang (well mungkin dua orang) yang sudah janji akan ikutan nongol di Schiphol pagi tadi dan belum datang waktu saya dan Bee sudah mendarat, mereka adalah Dain and pacarnya, Dennis. Tapi ga sampai 10 menit Dain muncul juga dengan muka bantalnya. Dan kami pun heboh di bandara, karena udah setahun lebih kami ga ketemu. Setelah heboh cipika-cipiki, Dain ambil barang titipan dari kakaknya (yang dititipkan ke saya), kami berpisah. Saya langsung ke Arnhem, Dain balik ke Leiden, dan Bee entah ke mana. :-p

Hari pertama saya di sini, saya habiskan di seputaran Arnhem. Begitu sampai di tempat orang tuanya Robin, saya langsung bablas tidur 4 jam karena masih lelah sehabis perjalanan. Cukup istirahat sampai siang, mandi, lunch, lalu Robin mengajak saya berkunjung ke salah satu Omanya di Velp (wilayah dekat Arnhem). Sore tadi, kami juga sempat berkunjung ke rumah salah satu sahabat Ma' Joke (Robin's mom), Wilma. Hari ini ditutup dengan makan malam keluarga, dengan menu 'bloemkool'. Dan karena masih capek, jadi saya mau langsung tidur lagi. Meanwhile, jam 3 pagi nanti saya harus sahur karena besok adalah hari terakhir puasa. Yaaaayy!!

Tuesday, November 30, 2010

The Sisters' Short Trip

Saya dan kakak perempuan saya mungkin adalah dua manusia yang memiliki latar belakang dan karakter yang mirip. Karena terlalu mirip, kadang kami jadi tidak cocok satu sama lain. Contohnya: saya orang yang keras, dia juga. Saya tidak sabaran, dia juga. Saya suka traveling, dia juga. Perbedaan kami mungkin hanyalah saya cantik, keren, pintar dan gaul, tapi sayangnya dia tidak. Hahaha. 

Anyway, saya orang yang senang bepergian, liburan, untuk menghilangkan stress. Biasanya saya memilih untuk pergi keluar dengan teman-teman atau pacar saya. Kakak saya juga begitu. Tapi bukan berarti kami tidak pernah pergi bersama-sama sekeluarga. Hanya saja tidak pernah terpikir oleh kami berdua untuk menghabiskan waktu pergi ke luar kota hanya berdua saja.Mungkin buat dia, saya adalah orang terakhir dalam list "orang yang akan gw ajak hang-out/liburan bareng" punyanya. Karena saya tahu betul, kalau saya bepergian dengan dia , hanya berdua, sepanjang perjalanan kami pasti hanya diisi oleh adu mulut antara saya dan dia.

Tapi herannya beberapa weekend lalu kami memutuskan untuk pergi menjelajah tempat baru berdua saja. Kami, hanya saya dan kakak perempuan saya, pergi ke sebuah tempat yang benar-benar asing dan baru bagi kami berdua. Kami pergi mengunjungi negeri tetangga,  negeri Singapura. Kebetulan saat itu kami berhasil mendapat tiket murah untuk berkunjung ke sana, hanya sekitar Rp 380,000.- PP/orang. Dan rencana kami hanyalah untuk menjelajahi negara tersebut dalam satu hari (berlagak seperti orang kaya, hehehe).

Perjalanan ini berjalan lancar di awal. Kami tidak banyak ribut, walaupun sekali dua kali kami bertingkah seperti bocah, adu argumen tentang giliran siapa untuk bertanya arah pada orang lain. Maklum, kami sama-sama belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di negara tersebut, jadi harus sering bertanya -_-". Kami pergi mengunjungi cukup banyak tempat, mulai dari Merlion Park, Sentosa Island, Orchad Road sampai Bugis Street. Semua itu dalam waktu satu hari saja. Jadi bisa dibayangkan bagaimana rasanya kaki saya setelah menjelajahi banyak tempat tersebut dalam waktu singkat. Mau copot rasanya!!

Usai berkeliling negeri imut itu, sudah terbayang di pikiran saya, kasur empuk ditemani bantal dan guling yang nyaman menunggu saya di rumah. Saya hanya perlu duduk manis di dalam pesawat selama perjalanan pulang, mengistirahatkan kaki saya sejenak sebelum saya benar-benar bisa merebahkan badan di tempat tidur kesayangan saya dan beristirahat. Sialnya, semua bayangan itu langsung sirna, begitu kami membaca bahwa penerbangan kami kembali ke Jakarta : DICANCEL! (T_T)

Mendengar berita itu kami sempat panik, tapi saya berusaha tetap tenang. Airlines kami bukan tanpa alasan membatalkan penerbangan ke Jakarta. Mereka membatalkan semua penerbangan ke Jakarta saat itu karena menerima kabar bahwa abu vulkanik dari letusan gunung merapi sudah sampai di wilayah udara kota Jakarta, sehingga bisa mengganggu jalannya penerbangan. Jadi kami tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Walaupun dalam hati saya panik dan ketar-ketir karena tidak bisa pulang, saya tetap berusaha stay cool, bahkan berusaha menenangkan kakak perempuan saya yang lebay dan panik akut. *sigh*

Akhirnya, dipaksa oleh keadaan, kami memutuskan untuk bermalam di Singapura. Menghibur diri, kami menghabiskan malam di Clarke Quay dengan uang pas-pasan. Dan setengah perjalanan kami pun mulai terjadi seperti yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Mulai dari tidak bisa menarik uang di mesin ATM padahal kami sudah kehabisan uang, sampai bertemu petugas imigrasi super menyebalkan yang membuat kami hampir ketinggalan kapal ferry yang akan membawa kami ke Batam, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kami ketinggalan pesawat di bandara Hang Nadim (Batam), yang berarti kami akan kehilangan uang dengan sia-sia dan terperangkap di sana. (Lebaaayy... :-p )

Ya, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta melalui Batam! Saya yang akhirnya mengambil keputusan itu. Karena setelah mencari informasi sana-sini, ternyata hanya airlines-airlines asing saja yang menutup penerbangan menuju Jakarta selama beberapa hari ke depan, hingga batas waktu yang belum diketahui. Sementara airlines milik Indonesia tetap membuka jalur Singapura-Jakarta. Dan lagi-lagi sialnya, kami kehabisan tiket pesawat menuju Jakarta dari airlines lain tersebut. Makanya, bukan tanpa alasan saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta lewat Batam.

Ternyata bukan hanya kami yang berpikiran seperti ini. Banyak orang yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan kami, yang akhirnya memutuskan mengambil jalur Singapura-Batam-Jakarta. Jadi, akhirnya kami harus menaiki ferry terlebih dahulu menuju Pulau Batam, dan baru dari sana kami naik pesawat menuju Jakarta. Kalau mengingat kejadian-kejadian yang terjadi selama setengah terakhir perjalanan kami ini, rasanya saya ingin tertawa terus, karena kekonyolan-kekonyolan (yang sebetulnya cukup menyebalkan) yang menimpa kami. Tapi untungnya, pada akhirnya, kami bisa selamat kembali ke kota nan padat, Jakarta. :)

Perjalanan singkat kami mungkin terlihat biasa saja. Tapi untuk saya dan kakak perempuan saya, perjalanan ini setidaknya mengajarkan kami sesuatu. Meskipun sering beradu argumen dan tidak cocok satu dan lainnya, pada dasarnya kami tetaplah kakak dan adik yang saling peduli satu sama lain, kami bisa saling menjaga, saling support dalam situasi-situasi yang mengharuskan kami menahan ego kami demi mencapai keputusan bersama. Dan pada saat perjalanan ini berakhir, partner perjalanan saya berkata "Yak, kita  lulus ikut 'Amazing Race'!"


Peace,
Gie

Friday, August 06, 2010

It is tomorrow!

Tomorrow. Yes, it is tomorrow. I'm gonna have my holiday with my besties and boyfriend. Yeeeaaayy!! Can't wait to go back to that island. The island that I've always been in love with. The island called BALI. 

So guys, mind to join us?

Cheers,
Gie

Friday, January 29, 2010

Menapak tanah eropa (lagi).

Tidak pernah menyangka kalau akhirnya gw bisa menapakkan kaki di tanah eropa lagi. Yak, beberapa minggu lalu, setelah melalui keribetan-keribetan yang panjang dan berliku-liku untuk mengurus visa serta printilan-printilan lainnya, akhirnya gw bisa kembali mengunjungi Belanda saat Natal dan Tahun Baru kemarin. Selama 12 hari gw menikmati "winter vakantie" (liburan musim dingin) di sana bersama Robin dan keluarganya.

Bukannya tanpa tujuan gw bisa berada di sana selama itu. Robin yang mengundang gw untuk datang ke sana dengan tujuan mengenalkan gw kepada keluarganya. Gw sangat senang sekaligus beruntung karena bisa menikmati liburan bersalju yang cukup panjang di sana dan bisa ketemu langsung dengan orang tua, adik, tante, oma, opa, keluarga dan teman-teman Robin lainnya, termasuk bertemu Erik lagi (silakan baca tulisan-tulisan gw sebelumnya).

Walaupun ini bukan pertama kalinya gw terbang ke Belanda, tetap aja gw merasa nervous dan deg-degan dari sebelum berangkat, selama perjalanan, bahkan sampai saatnya kembali ke Indonesia. Mungkin lebih dikarenakan karena gw tidak cukup pede untuk bertemu Robin dan keluarganya. Maklumlah kan gw memang orang yang sangat pemalu. Hehehe.

Banyak pengalaman seru selama gw berkunjung ke Belanda kali ini. Salah satunya adalah saat itu pertama kalinya gw melihat, mencicipi, dan bermain dengan yang namanya "SALJU". Hehehe. Gw cukup beruntung bisa bertemu dengan salju, tapi gw juga merasa sedikit tersiksa karena udara di sana dingin banget, sekitar 0 (nol) sampe -5 (minus lima) derajat celcius. Brrrrrr!!

Untungnya, biarpun banyak hal baru yang gw lalui di sana (positif atau pun negatif), Robin dan keluarganya selalu menjaga gw dengan baik. Mungkin karena sepanjang liburan kemarin gw tinggal di rumah orang tuanya Robin. Orang tua dan adiknya yang awalnya bikin gw ketakutan dan nervous sebelum bertemu mereka ternyata sangat jauh berbeda dari bayangan gw. Mereka sangat ramah, baik dan terbuka. I like them actually! :)

Anyway, seperti biasa gw akan bercerita dengan beberapa foto pilihan yang gw ambil waktu gw di sana. Here they are. Enjoy!!

Jalan-jalan di Sonsbeek Park, Arnhem. Waktu itu gw berasa sedang berada di dalam kulkas karena dingin banget! Akhirnya gw minta untuk buru-buru pulang karena jari-jari kaki dan tangan gw mulai terasa sakit saking dinginnya. Jadi berasa norak dan kampungan saat itu. :(



Hari kedua di Belanda, gw dibawa ke kebun binatang sama Robin. Mungkin dia mau melihat kembarannya di sana (Hehehe). Di sini pertama kalinya gw melihat binatang yang disebut pinguin secara langsung. Soooo cute!!!


Berkunjung ke Utrecht di malam hari untuk ketemu dengan Mala, salah seorang junior gw di kampus yang sekarang kerja di sana.









Playing some pool with Robin and his mom before celebrating New Year Eve!

Robin and his family. From left to right: Dennis (Robin's younger brother), Ronald (Robin's father), Joke (Robin's mom), and Robin himself.

Mampir ke bar milik organisasi kampusnya Robin, Roderick. Pretend to be a DJ.

Then pretend to be a bartender. =))










My house? Or your house? Hahaha. It just snowy everywhere.
Location: Openlucht Museum,Arnhem.


Walaupun gw ga merayakan Natal, ga ada salahnya kan berfoto bareng sinterklas. Hehehe.

Kurang afdol rasanya kalo belum foto dengan latar belakang kincir angin. :D


Our favorite drink: Chocolademelk met slagroom.

Jadi, begitulah kira-kira pengalaman dan cerita yang bisa gw bagi selama 12 hari gw di sana. Sebenernya masih banyak cerita, foto dan pengalaman yang ingin gw bagi, tapi mungkin lain kali aja atau melalui media yang berbeda alias ga di blog ini. Hehehe. Intinya sih gw sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk bisa kembali mengunjungi negeri kincir angin dan mengenal langsung orang-orang terdekat Robin selama dia di sana. Dan semoga kesempatan-kesempatan berikutnya masih akan datang. Amin!


Cheers,

Gie