Knowledge and Experience. They just know how to keep me feel alive.....


Friday, June 15, 2012

Just a thought (2)

"Kalau memang Tuhan sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan, kenapa masih saja ada yang menentang?"

-Gie-


Wednesday, June 13, 2012

Para.. para..

I am acrophobic. And I don't like being acrophobic, but that is what I am.

Acrophobic berarti orang yang takut ketinggian, dan saya salah satunya. Saya ga bisa ingat sejak kapan saya takut ketinggian. Yang saya ingat, saya selalu deg-degan dan sedikit gemetar tiap kali harus menyeberang dengan jembatan penyeberangan (terutama jembatan penyeberangan di gerbatama UI, yang juga menyeberangi rel kereta. Tinggi banget!!). Saya selalu ingin nutup mata tiap kali naik lift yang kacanya transparan. Saya ga berani liat ke bawah tiap kali naik eskalator atau jalan-jalan di mall, karena kalau saya lakukan perut saya rasanya langsung mual. Pernah satu kali saya pergi ke Anyer dan saya naik ke puncak sebuah mercusuar bersama beberapa teman, saya hanya berani duduk merapat ke tembok sambil berpegang erat-erat ke pagar penyangga dengan wajah pucat sementara teman-teman saya asyik bergaya dan berfoto. Saya juga pernah dipaksa naik wahana Kora-Kora di Dufan oleh beberapa teman, dan saya hanya bisa menutup mata, merasakan jantung saya hampir copot sampai akhirnya tangisan saya pecah di atas wahana itu.Yah, itulah saya.

Sering kali saya dapat ucapan dari teman-teman saya seperti, "Ga asik lo! Gitu aja takut.Cupu!" atau "Gaya tengil macam jagoan tapi ga berani nyoba yang tinggi-tinggi". Puas deh sepanjang hidup saya denger omongan kayak gitu. Saya cuma bisa cengar-cengir kecut tiap kali denger semua ucapan teman-teman saya tadi. Ga masalah mereka mau bilang apa, selain sama hiu, saya emang takut juga sama yang namanya ketinggian, jadi mau gimana lagi.

Tapi biarpun takut tinggi, saya ga takut naik pesawat. Karena mungkin saya merasa aman berada di dalamnya. Saya jadi ingat pengalaman pertama saya naik pesawat, antara excited dan takut setengah mati. Saya tidak akan pernah lupa penerbangan pertama saya ke Bali dengan 3 orang teman. Waktu itu saya dapat tempat duduk terpisah dari 3 teman saya tersebut, tapi karena teman saya tahu persis kalau itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat dan saya sebenarnya penakut, jadilah saya bertukar posisi dengan salah seorang teman. God bless her :-p. Saat take off dan landing adalah saat-saat yang paling saya ga suka. Lagi-lagi saya menutup mata plus menggenggam erat-erat bangku pesawat (dan tangan teman saya) ketika itu. Walaupun diketawain sama teman saya, saya udah ga mau ambil pusing dan tetep melanjutkan ritual tersebut. Sampai sekarang pun, tiap kali take off dan landing dengan pesawat, saya lebih suka menutup mata saya, mengatur napas sedemikian rupa dan berpegang pada sesuatu sambil komat-kamit dalam hati: All is well... All is well... 

Saya ga tau apakah acrophobia saya ini termasuk dalam ukuran parah, lumayan atau biasa-biasa saja. Tapi saya sudah membulatkan tekad untuk pelan-pelan mengatasinya. Beberapa waktu lalu tercetuslah sebuah ide dari teman saya untuk mencoba tandem paragliding (paralayang) di Puncak. Di satu sisi saya tertarik banget untuk nyoba, saya selalu senang dan penasaran dengan hal-hal baru. Tapi di sisi lain, saya ga berani membayangkan betapa tingginya nanti saya akan melayang, di alam terbuka, tanpa pelindung apa-apa. Bayangan seperti parasut yang ga akan terbuka atau tiba-tiba saya jatuh dari ketinggian melintas di kepala saya. I'm terrified, but I have to face it. I want to experience it so bad. Maka, saya pun mengiyakan ajakan itu.


Dan jadilah saya, tepat tanggal 19 Mei 2012 lalu, terbang pertama kali dengan paralayang dan berhasil melawan ketakutan-ketakutan saya. Saya mungkin lebay, tapi saya bangga bukan main. Hehehehehe. Bukan hal gampang bagi saya untuk yakin terus berlari sampai parasut membawa saya terbang melayang di ketinggian berpuluh-puluh meter dari atas tanah tempat saya berpijak sebelumnya. Saya harus melihat 2 teman saya lebih dulu melaluinya dan mendengar komentar mereka sebelum saya memutuskan untuk ikut mencoba. Tangan saya harus terus mengeluarkan keringat dingin tiap kali saya berdoa dalam hati bahwa semua akan baik-baik saja dan saya tidak akan jatuh. Kaki saya harus gemetar terus-terusan sebelum angin akhirnya datang dan saya diminta berlari sekuat tenaga sampai saya melayang. Bahkan pada saat berlari saya harus menggigit bibir saya karena ketegangan yang saya rasakan.

Pada akhirnya, ketika saya sudah terbang tinggi, saya merasa perut saya bergejolak. Bukan karena mual, tapi lebih karena senang. Senang merasakan angin sejuk yang menerpa wajah saya. Senang karena saya bisa merasa aman melihat pemandangan di bawah saya. Senang karena ternyata bayangan-bayangan seram dalam kepala saya sebelumnya ga terjadi. Rasanya campur aduk, walaupun masih tersisip sedikit rasa takut jauh di dalam pikiran dan hati saya. The feeling was amazing. Such a great sensation I can say! Sensasi yang serupa tapi tak sama yang saya rasakan tiap kali saya menyelam. Aaaahh saya suka sensasi itu. Sensasi itu membantu saya bernapas lega ketika tiba waktunya untuk saya perlahan terbang merendah dan mendarat kembali di tanah. I nailed it!

Pengalaman saya kali ini pastinya ga akan pernah saya lupain. Benar-benar pengalaman pertama saya 'terbang'. Tanpa pesawat. Dari pengalaman ini saya belajar kalau ketakutan itu bisa diatasi pelan-pelan. Walaupun ga sepenuhnya hilang, tapi bisa dikurangi dan saya jadi lebih percaya dengan diri sendiri. Untuk Bee, -i-, Dea dan Chirra, makasih untuk perjalanan dan pengalaman yang menyenangkan kemarin.




Ciao!

-Gie-



Wednesday, May 23, 2012

Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 3)

Tulamben – Night Dive

Selesai dive ketiga, saya break cukup lama. Karena saya hanya tinggal menunggu untuk night dive bareng si Belih. Sayangnya Bee, belum bisa ikut untuk night dive. Sebelum night dive, Belih Asa membriefing saya tentang cara memakai senter dan kode-kode yang bisa digunakan dengan senter selama penyelaman nanti.

Sekitar jam setengah tujuh kami mulai penyelaman terakhir hari itu. Ini pengalaman pertama saya melakukan night dive. Rasanya beda banget sama nyelem waktu ada matahari. Sensasinya luar biasa. Antara takut, excited, deg-degan kalo ketemu hiu atau nabrak apa gitu. Dan bener aja, beberapa kali karena terlalu asik liat-liat atau bikin foto, saya hampir nabrak/kejedot dinding-dinding kapal. Untung si Belih selalu aware sama keadaan dan ngawasin saya dengan cekatan. Saya takut banget sebenernya selama night dive, dan ketakutan terbesar saya adalah kalau tiba-tiba saya lagi meleng dan kemudian ngarahin senter ke depan…… jeng jeng jeng ada muka hiu di hadapan saya. :-s  Hiu adalah hewan yang paling menyeramkan buat saya. Sumpah, saya takut hiu!!

Dan ketakutan saya itu nyaris terjadi. Beberapa saat sebelum penyelaman selesai, di kejauhan saya ngeliat ikan yang cukup besar dan saya pikir: itu pasti hiu. Biarpun ciut, saya sok berani memfoto ikan itu, sayangnya saya hanya bisa memfoto satu kali, karena setelahnya kamera saya mati total. Si Belih yang ga tau kalo saya lagi ketakutan malah ngedeketin makhluk itu, agak ragu saya ikutin deh ke mana si Belih mengarah daripada saya ditinggal sendirian. Untungnyaaaa ternyata itu bukan hiu, fyuuuhhh… Ternyata oh ternyata itu hanyalah si bumphead yang saya kira hiu. Hohoho,, ga jadi kencing di celana deh saya.


Selesai menyelam seharian hari itu, saya ga bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Saya terlalu senang dengan apa yang saya alami. Walaupun saya sedikit sakit kepala setelahnya, karena kemampuan mengontrol buoyancy saya yang masih cemen jadi sering naik-turun selama diving, tapi perasaan senang dan terpuaskan saya menghilangkan segala kesakitan itu dengan mudahnya. *Tsaaaaaahh….* Yak, I’m so happy that my first trip went really well. And I can’t wait for my next trip. ASAP!


(Ini loooh si bumphead yang saya kira hiu. 
Sayang fotonya kurang jelas karena kameranya udah mau die)

Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 2)


Tulamben – Day Dive

Hari kedua kami di Bali adalah hari ujian diving untuk Bee. Untuk bisa dapat diving license PADI, Bee setidaknya harus 4 kali menyelam dan mengikuti ujian tertulis. Bulan Maret lalu, Bee sudah ikut ujian tertulisnya dan sudah menyelesaikan 1 kali dive di Pantai Sanur. Jadi, masih ada 3 dive lagi yang harus diselesaikan. Sementara saya, ga mungkin dong saya nungguin Bee doang, dengan bengang-bengong di pinggir pantai. Hehehe. Jadilah saya ambil 3 kali day dives dan 1 night dive dari dive operator yang sama dengan tempat Bee ambil license, yaitu Bali MarineSports. (untuk info tambahan aja: biaya untuk 3 day dives dan 1 night dive kurang lebih 1,3 juta di sana, sudah termasuk sewa alat dan senter untuk night dive). Dan hari itu, kami akan menyelam di Tulamben, Bali Timur. One of the best dive spot in the world! Woooohoooo…. :D

Perjalanan untuk mencapai Tulamben dari pusat kota kurang lebih 2,5 – 3 jam dengan mobil. Kami tiba di Tulamben sekitar jam 11 siang. Begitu sampai, ga pake haha hihi huhu kami langsung bersiap-siap. Karena Bee harus ujian, jadi saya berpisah dengan Bee. Bee menyelam dengan instrukturnya dan saya dengan Belih Asa, buddy (guide) saya hari itu. Belih Asa membawa saya langsung ke spot wreck kapal USS Liberty. Dan……. Gilaaaaaaa…… buat saya yang pertama kali diving di luar Pulau Jawa, melihat pemandangan itu rasanya benar-benar luar biasa. Kapal yang luar biasa besar, tenggelam, dan sekarang bangkai kapalnya dipenuhi karang-karang yang cantik, ikan-ikan yang berlalu lalang dan makhluk-makhluk laut indah lainnya. Saya takjub.


Saat dive pertama,saya masih kagok untuk mengambil foto di bawah laut. Saya terlalu takjub dengan apa yang saya lihat. Jadilah Belih Asa yang baik hati, mengambil alih kamera saya dan beberapa kali mengajari saya mengambil gambar dengan angle yang bagus. Saking baiknya, malahan si Belih beberapa kali memfoto saya yang sedang diving sambil bergaya. Hehehe. Dan waktu kami berpapasan dengan serombongan school fish, si Belih membawa saya ke dalam pusaran ikan-ikan itu dan mengambil foto saya dengan mereka. Yak, si Belih tau betul kalo fun diver pemula seperti saya suka narsis. *nyengir kuda sambil berpose peace*

Ga kerasa untuk dive pertama, si Belih sukses membawa saya berkeliling selama 1 jam dan sampai di kedalaman 27 meter. Hiiiiii… waktu saya tahu itu, saya sampe merinding karena ga nyangka saya bisa sedalam itu. Selesai dive pertama, kami istirahat makan siang sebelum melanjutkan ke dive berikutnya. Selama makan siang saya mengobrol banyak dengan Belih Asa. Dari Belih Asa, saya dapat beberapa tips untuk mengambil gambar di bawah air. Lumayanlah buat jadi bekal saya pas dive selanjutnya.

Waktu dive kedua, Belih Asa masih membawa saya ke spot yang sama. Tapi kali ini dia membawa saya menelusuri ke dalam wreck kapal. Seru-seru deg-degan gimana gitu rasanya waktu saya masuk-masuk ke dalam bangkai kapalnya. Saya harus ekstra hati-hati dan menjaga buoyancy saya supaya ga kepentok atap atau kebaret tiang kapal. Di penyelaman kedua ini, saya ketemu lebih banyak makhluk. Penyu, blue spotted stingray, nudibranch, lion fish, dwarf hawkfish, cleaner shrimp dan serentetan makhluk laut lainnya yang bodohnya saya ga tau namanya. Saya puas banget jeprat-jepret objek laut sepanjang penyelaman.


Puas dengan penyelaman kedua, kami istirahat lagi. Waktu saya selesai penyelaman kedua ternyata Bee sudah selesai dengan ujiannya, dan dia lulus. 3 kali dive sukses dilahap Bee. I’m proud of you, girl! Dan sepertinya karena Bee juga udah mulai ketagihan, akhirnya dia memutuskan untuk ikut saya dan Belih Asa di penyelaman ketiga kami. Jadilah kami menyelam bertiga menuju spot coral garden. Dari namanya aja udah jelas banget kalo di spot yang satu ini pasti banyak karang-karang berwarna warni dan ikan-ikan kecil. Di sini kami bertemu dengan clown fish a.k.a nemo yang lagi asik main-main di anemon. Ada juga moray eel, nudibranch lagi dengan warnanya yang nyentrik, tube worm, starfish daaaaann puffer fish alias ikan buntal.

 (ini nih si nyentrik: Nudibranch)


Melihat Bali Lebih “Dalam” (Bagian 1)

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman diving pertama saya setelah memegang lisensi A1 CMAS untuk menyelam. Ceritanya mungkin akan agak panjang, tapi semoga tidak membosankan. Dan supaya ga bosan bacanya, entrynya saya bagi jadi 3 bagian. :)

Pertengahan April lalu, kira-kira 2 minggu setelah saya beli underwater housing untuk kamera saya, saya dan Bee pergi ke Bali (lagi!). Tapi, kali ini kami bertekad hanya akan menghabiskan waktu di laut, tidak di pusat kota.

Sebenarnya saya hanya akan menemani Bee yang akan ikut ujian menyelam untuk mendapatkan lisensi PADI. Januari lalu, seharusnya Bee bersama dengan saya mengikuti ujian d, tapi karena faktor kesehatan dia ga jadi ikut ujian itu dan akhirnya dia mutusin untuk ambil license-nya di Bali.

Padang Bai - Snorkeling

Hari pertama kami pergi ke Padang Bai untuk snorkeling. Sekalian juga, saya mau nge-test si housing baru. Awalnya agak deg-degan juga sih, takut housingnya leak/bocor. But thank God, it didn’t happen. Di Padang Bai, kami  nyewa perahu jukung selama 2 jam dengan biaya sewa 250 ribu. Mungkin bisa lebih murah dari itu, tapi saya udah males nawar dan pengen cepet-cepet nyemplung aja. Dengan nyewa jukung selama 2 jam, 1 jam pertama kami snorkeling di Tanjung Jepun dan 1 jam berikutnya di Blue Lagoon.  

Saya sedikit menyesal karena tidak memutuskan untuk diving di Padang Bai. Karena untuk spot Tanjung Jepun, saya kurang menikmati snorkelingnya. Berbeda mungkin kalau saya diving di sana, pasti lebih banyak yang bisa dinikmati dan dilihat. Untungnya begitu kami pindah ke spot Blue Lagoon, kami benar-benar terpuaskan. Blue Lagoon memang spot yang sangat sangat sangat bagus untuk snorkeling. Banyak banget karang-karang dan ikan-ikan yang berseliweran di sana. Perairannya juga sangat jernih dan bersih. Klik, klik, klik…. Ga ragu-ragu saya ambil beberapa foto di sana. Cantik!

 (foto favorit: lalu lintas bawah laut)