"Offensive words come out from they who never think about other people's feeling. Because they only think about their self."
-Gie-
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Knowledge and Experience. They just know how to keep me feel alive.....
Thursday, April 21, 2011
percaya dan kecewa
Memberikan kepercayaan pada seseorang bukanlah hal yang mudah seperti berkedip atau (kalau kata orang banyak) membalikkan telapak tangan. Setidaknya itu pendapat saya. Susah bagi saya mempercayai kata-kata/perbuatan/janji orang lain begitu saja. Butuh waktu lama untuk membuat saya yakin dan percaya akan sesuatu. Begitu saya percaya pada sesuatu/seseorang, itu berarti saya hampir 100% yakin akan komitmen dari sesuatu/seseorang tersebut.
Sayangnya ketika komitmen (sesederhana apapun itu) yang dipercayai hanyalah sebetas 'kata' tanpa 'tindakan riil' dalam dunia nyata, maka hanya kekecewaan yang ada sebagai akibatnya. Kekecewaan yang mampu membuat kita sulit atau mungkin tidak akan pernah percaya lagi.
Satu kali, dua kali kecewa, wajar. Tapi lebih dari itu?
Kalau sudah begitu harus percaya bagaimana lagi? Percaya pada siapa atau apa lagi? Mungkin ada benarnya ketika orang bicara pada saya : "Percaya sih sama manusia, percaya tuh sama Tuhan. Itu udah paling bener."
Entahlah.
-Gie-
Thursday, February 10, 2011
Just a quote
"True love doesn't mean being inseparable; it means being separated and nothing changes."
In these past two months
Rasanya sudah lama sekali dari terakhir kali saya menuliskan sebuah cerita di blog pribadi saya ini. Padahal kenyataannya waktu baru berlalu dua bulan saja. Sebelumnya, saya mau mengucapkan Selamat Tahun Baru 2011 untuk teman-teman semua yang sudah sudi meluangkan waktunya membaca tulisan-tulisan dalam blog saya. Semoga di tahun ini kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan selalu diberikan rejeki yang melimpah oleh Tuhan YME. Amin.
(Yak, paragraf pertama selesai. Dan sekarang saya sedang stuck memikirkan mau menulis apalagi. Hehehe.)
Mungkin keadaan ini sering teman-teman alami. Keinginan/mood untuk menulis tentang sesuatu datang, banyak ide bermunculan, dengan sigap segera menyalakan komputer/laptop, tapi begitu lembaran putih tiba-tiba muncul di hadapan, BLANK! Semua ide-ide hilang, dan ujung-ujungnya bingung mau menuliskan apa. Atau justru kebalikannya, karena terlalu banyaknya ide, kita jadi bingung memilih ingin menuliskan yang mana terlebih dahulu.
Hmmm.. Mungkin sebaiknya saya mulai dari yang simpel-simpel saja. Tidak mau menulis sesuatu yang 'berat', karena itu memang bukan jiwa saya. Baiklah, saya mulai dari cerita singkat tentang kehidupan saya dua bulan belakangan ini.
Dalam waktu sesingkat dua bulan banyak hal yang bisa terjadi dalam kehidupan seseorang. Begitu juga dengan kehidupan saya. Desember lalu, tepat di malam Natal, saya pergi makan malam dengan Mister Bule kesayangan saya. Malam itu, sepulang bekerja saya menghabiskan waktu dengannya, berbincang tentang berbagai macam hal, tentang hidup, kenangan-kenangan, dan tentang hubungan kami. Entah kenapa dia selalu berhasil membuat saya tertawa dengan kebodohan-kebodohannya. Saya senang berada di dekatnya.
Seminggu kemudian. Malam Tahun Baru. Saya lagi-lagi menghabiskan waktu bersama si Mister. Kali ini saya mengajak dia merayakan tahun baru dengan teman-teman kuliah saya dulu. Kebetulan seorang teman mendapatkan kamar gratis di salah satu hotel. Kami bercengkrama, tertawa, meniup trompet, menyanyikan lagu Justin Bieber bersama-sama (Harusnya saya tidak menulis bagian ini. Malu!!), dan lain-lain dan lain-lain.
Dua minggu setelahnya, Jumat malam, Mister Bule mengajak saya dan beberapa sahabat saya pergi ke sebuah bar di bilangan Kemang. Duduk-duduk, minum-minum, tertawa-tawa lagi, dan membunuh waktu bersama. Besoknya, saya lagi-lagi mengajak Mister Bule untuk ikut acara rutin Arisan dua bulanan dengan teman-teman kampus saya. Kami semua super senang di hari itu, lagi-lagi tertawa-tawa bersama, foto-foto, menggosip, dan lain-lain dan lain-lain.
Sampai akhirnya hari itu tiba. Sehari setelah Arisan. Dari pagi saya sudah menghabiskan waktu bersama Mister Bule. Siang hari, kami makan siang bersama. Setelah makan siang kami pulang ke rumah saya dan bertemu dengan keluarga saya. Sore hari, kami berangkat dari rumah menuju Bandara. Bukan untuk menjemput sesiapa di sana. Tapi, hari itu adalah waktunya Mister Bule kesayangan saya untuk kembali ke negaranya. Saya tidak mau dia pergi, dia juga tidak mau pergi. Tapi memang sudah waktunya dia untuk kembali ke sana. Itu kewajibannya. HARUS. Melanjutkan kuliahnya sampai selesai, demi menata masa depan yang lebih baik untuknya, dan mungkin untuk kami.
Hari ini. Tiga minggu lebih empat hari setelah kepergiannya. Saya masih mencoba bertahan. Dia juga. Kami memang tidak senang dengan keadaan yang mengharuskan kami terpisah jarak dan waktu. Tapi setidaknya kami masih bahagia bersama, dengan apa yang kami punya. Kami masih punya satu sama lain. Punya sosok yang bisa kami rindukan dan membuat kami tersenyum saat bangun tidur kalau sewaktu-waktu kami bertemu dalam mimpi. Sekarang kami hanya bisa berharap waktu cepat berlalu. Cepat berlalu sampai akhirnya kami bisa bersua dan melakukan banyak kegiatan bersama-sama kembali.
Saya berdoa untuknya, untuk kami. Semoga dia tidak kesulitan menjalani kuliahnya di sana. Menjalani hari-harinya. Semoga perasaan kami terhadap satu sama lain masih akan terus sama dan tidak berubah, atau lebih baik lagi, menjadi semakin kuat. Amin.
Aku sayang kamu, Robin Corba. Dan akan selalu begitu.
-Gie-
Thursday, December 16, 2010
Sinterklaas - Natal - Santa Claus
Bulan Desember identik dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani. Saya memang tidak merayakan Natal, tapi seorang mister bule mencoba mengenalkan saya dengan salah satu budaya/tradisi menjelang Natal yang ada di negaranya, tradisi "Sinterklaas". Sinterklaas di sini berbeda dengan Santa Claus yang terkenal di Amerika, bahkan di seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia. Dalam tradisi Sinterklaas, figur pria tua berpakaian uskup lengkap dengan tongkat keuskupannya, diilhami dari tokoh nyata, seorang uskup bernama Santo Nicholas yang dilahirkan di Turki, yang senang memberikan hadiah kepada orang-orang miskin. Sementara karakter Santa Claus yang lebih terkenal, sosok pria tua bertubuh gempal, berjanggut putih, memakai topi, mantel salju dan celana merah dengan garis putih pada ujung-ujungnya lengkap dengan sepatu boots hitam, hanyalah hasil rekayasa seseorang bernama Haddon Sundblom, manajer humas minuman bersoda, Coca-Cola, yang menciptakan karakter tersebut untuk keperluan iklan Coca-Cola di tahun 1931-1964.
(bisa dilihat dari kedua foto di atas : kiri Sinterklaas dan kanan Santa Claus)
Kembali ke tradisi Sinterklaas, di negara si mister bule kesayangan saya itu, sebut saja negara Belanda, tradisi ini dirayakan setiap tanggal 5 Desember. Sinterklaas di sana pun lebih dikenal dengan sebutan "De Goede Sint". Kata si mister, biasanya tradisi ini hanya untuk anak-anak. Anak-anak membuat sebuah "verlanglijstje" (wishlist) sebelum tanggal 5 Desember dan diberikan kepada orang tua mereka, yang mereka percayai kalau orang tua mereka akan meneruskannya kepada Sinterklaas. Lalu pada tanggal 5 Desember, anak-anak yang sudah berkelakuan baik akan mendapat hadiah dari Sinterklaas. Dan biasanya hadiah yang mereka dapat merupakan salah satu benda yang tertulis dalam "verlanglijstje" mereka. Tidak hanya hadiah, tapi mereka juga akan mendapat puisi/sajak yang konon katanya ditulis oleh Sinterklaas/De Sint. Mereka akan membaca sajak/puisinya dulu sebelum membuka hadiahnya. Jadi, mereka tidak mendapat hadiah tepat pada hari Natal, tapi justru beberapa hari sebelumnya.
Seiring dengan perubahan jaman, tradisi ini sedikit berubah. Menurut si mister, sekarang orang dewasa pun melakukan tradisi ini bersama-sama dengan orang yang mereka sayang, bisa keluarga, teman, ataupun pacar. Mereka saling membuat "verlanglijstje" dan saling memberikan daftar itu, untuk kemudian pada tanggal 5 Desember mereka bisa saling memberikan puisi/sajak dan hadiah sesuai dengan apa yang diinginkan/dibutuhkan si penulis "verlanglijstje". Dan tepat pada tanggal 5 Desember lalu, tanpa membuat sebuah "verlanglijstje" si mister bule baik hati yang sudah menjelaskan panjang-lebar tentang tradisi Sinterklaas di negaranya, membawakan sajak dan hadiah dari Sinterklaas untuk saya. Dia bilang selama ini saya sudah berkelakuan baik kepadanya, jadi dia meminta Sinterklaas memberikan hadiah spesial untuk saya. :-)
Terima kasih, Mister bule baik hati untuk cerita dan hal-hal menarik lainnya selama ini! :-)
Peace,
Gie
P.S : Selamat menyambut Natal bagi yang merayakan! ^_^
Subscribe to:
Posts (Atom)


